Posts Tagged with ‘Jawa Timur’


KRI Dewaruci, Penguasa Lautan Dari Indonesia

KRI Dewa Ruci adalah satu-satunya kapal layar tiang tinggi yang dimiliki oleh TNI Angkatan Laut. Ia juga merupakan kapal layar paling besar yang dimiliki Indonesia. Nama Dewa Ruci sendiri diambil dari nama dewa penguasa lautan dalam kisah pewayangan Jawa. Kapal buatan Jerman tahun 1952 ini difungsikan sebagai kapal latih untuk para kadet/taruna TNI AL. Saat tak bertugas, kapal ini bermarkas di Mako Armada Timur Surabaya. Namun sepanjang hayatnya, KRI Dewa Ruci lebih banyak mengarungi lautan bersama para kadet.


Mengintip Markas Komando Armada Timur

Pada umumnya daerah-daerah khusus militer di Indonesia bersifat sangat tertutup. Tidak mudah untuk melihat isinya. Terkadang sudah seperti daerah angker yang dikeramatkan saja. Jangankan untuk mengintip isi markas sekelas Markas Komando Armada Timur (Mako Armatim), lewat dari depan Markas Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) saja kita harus seperti menunduk-nunduk. Saya masih ingat betul sewaktu SMA setiap kali bus yang saya tumpangi lewat di depan Markas Rindam lajunya harus sangat pelan. Ada suara bising sedikit saja bisa ditegur sama aparat.


Mendaki Semeru, Menggapai Puncak Tertinggi Pulau Jawa

Hembusan angin dingin pegunungan musim hujan merasuk hingga tulang-tulang tatkala saya tiba di Ranu Pani.  Dinginnya  cuaca di sini mampu membuat siapapun yang tak terbiasa menggigil. Memulai perjalanan menjelang malam dari Surabaya, saya dan teman-teman satu tim tiba di kaki Gunung Semeru subuh keesokan harinya. Suasana begitu hening. Tenang. Hampir tak ada suara yang terdengar. Hanya kegelapan yang ada di depan mata. Cahaya Sang Rembulan di atas sana hanya mampu menghadirkan remang-remang terhalang awan gelap.


Istimewanya Sunset Di Atas Feri Penyeberangan Selat Madura

Selama hampir tujuh tahun tinggal di Pulau Madura, saya sudah menyeberangi Selat Madura entah berapa ratus kali. Baik itu menggunakan kapal feri maupun melalui Jembatan Suramadu. Awalnya dulu pilihan penyeberangan Surabaya-Madura hanya menggunakan feri. Kala itu jalur ini sangat ramai, kadang para pengguna jasa feri harus mengantri sampai berjam-jam. Biasanya keadaan seperti ini akan semakin parah tatkala hari-hari besar tiba. Tapi itu dulu sebelum Jembatan Suramadu beroperasi. Kini penyeberangan lewat feri tidak seramai dulu lagi. Selain lebih murah, menyeberang lewat Jembatan Madura juga jauh lebih cepat.


Peraturan Baru Pendakian Gunung Semeru

Popularitas Gunung Semeru memang semakin melejit seiring dengan suksesnya film 5 CM yang diangkat dari novel dengan judul yang sama. Keindahan pemandangan jalur pendakian Gunung Semeru yang disajikan dalam film garapan Rizal Mantovani tersebut mampu memancing rasa penasaran khalayak ramai. Pendakian ke Gunung Semeru pun meningkat dengan drastis. Bahkan pada akhir tahun 2012 lalu jumlah pendaki ke Gunung Semeru dapat dikatakan membludak. Celakanya lagi kebanyakan pendaki yang terprovokasi film 5 CM tidak memiliki cukup pengetahuan tentang pendakian. Mereka juga rata-rata kurang memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga keaslian, keasrian, dan kelestarian Gunung Semeru.


Foto-foto Unik dan Menarik Dari Pawai Ogoh-Ogoh Surabaya

Walaupun harus berlari-lari di bawah terik sinar matahari yang membakar kulit, saya tetap semangat menjepret momen demi momen di acara Pawai Ogoh-ogoh Surabaya yang diadakan di Tugu Pahlawan. Pawai Ogoh-ogoh di Kota Pahlawan ini memang dilangsungkan siang hari bukan sore menjelang malam seperti di Bali. Sekitar 11 raksasa berwajah menyeramkan siang itu di arak mengelilingi Tugu Pahlawan. Patung-patung berukuran besar itu adalah perwujudan Buta Kala sebagai lambang kejahatan, nantinya mereka akan dibakar sebagai simbol kalahnya kejahatan.


Pawai Ogoh-ogoh Di Tugu Pahlawan, Surabaya

Setelah sehari sebelumnya menyaksikan Upacara Melasti di Pura Agung Jagat Karana, Senin (11/03/2013) yang lalu saya kembali menyempatkan diri untuk melihat pawai Ogoh-ogoh di Tugu Pahlawan, Surabaya. Jika di Bali Ogoh-ogoh diarak sore hari menjelang malam, maka di Surabaya sedikit agak berbeda. Pawai Ogoh-ogoh di Kota Pahlawan dilakukan di siang hari. Pasalnya rombongan harus kembali ke pura asalnya masing-masing pada sore harinya. Itu sebabnya juga tidak ada pembakaran Ogoh-ogoh karena acara itu akan dilangsungkan di daerah asalnya.


Upacara Melasti Di Pura Agung Jagat Karana, Surabaya

Tiga atau dua hari menjelang Hari Raya Nyepi, umat Hindu biasanya melakukan upacara Melasti. Melasti adalah upacara untuk menyucikan manusia dan alam dari segala kotoran (leteh). Pada hari ini umat Hindu beramai-ramai mendatangi pura dan mengarak segala sarana persembahyangan yang ada di pura ke danau atau pantai. Umat Hindu percaya bahwa pantai dan danau merupakan sumber air suci (tirta amerta) yang bisa menyucikan kotoran di dalam diri manusia dan alam. Arak-arakan umat yang membawa segala sarana persembahyangan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Itu sebabnya Bali sangat ramai menjelang Hari Raya Nyepi.


Indahnya Sunrise di Puncak Gunung Lawu

Saya mengagumi keindahan pemandangan matahari terbit (sunrise) di pagi hari sama seperti besarnya kekaguman saya pada keindahan pemandangan matahari terbenam (sunset) di sore hari. Mengagumi sunrise bukanlah pekerjaan mudah. Butuh sedikit pengorbanan jika ingin menyaksikan Sang Mentari bangun dari tidurnya. Setidaknya kita harus bangun lebih pagi dari biasanya, bahkan lebih awal dari Sang Mentari sendiri. Itu artinya kita harus memotong jatah tidur kita yang mungkin sudah berkurang dipakai begadang semalaman :D. Beberapa orang bahkan rela melawan rasa letih mencapai puncak gunung dan melawan dinginnya udara pagi demi menyaksikan indahnya sunrise.


Ngegembel di Gunung Lawu

Ngegembel di Gunung Lawu adalah pengalaman yang cukup menarik ketika saya dan teman-teman tim pendakian gunung penuh misteri dan mistis itu telah turun dan hendak melanjutkan perjalanan pulang ke Madiun sebagai tempat transit ke Surabaya (sebagian ke Bojonegoro). Awal cerita sebenarnya sudah diplot pada saat kedatangan kami di Cemoro Sewu sebagai pintu masuk ke Lawu. Ongkos angkot dari Terminal Plaosan di Magetan menuju Cemoro Sewu yang di luar dugaan itu lah yang menjadi sebab musababnya. Saat akan membayar ongkos, salah seorang teman saya bertanya ke supir angkotnya “Berapa Mas?”, “Seratus ribu Mas..” balas si supir tanpa rasa bersalah. Seperti disambar geledek di siang bolong, jawaban itu sontak membuat kami berempat terkejut dan saling bepandangan. Kami tak percaya akan semahal itu.

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi