Tak Hanya Jogja, Sumenep Juga Punya Keraton

Kota dan Kabupaten Sumenep terletak di bagian paling timur dari Pulau Madura. Pas banget di ujung kalau dilihat di peta. Cara terbaik mengelilingi Madura adalah dengan mengunjungi Sumenep. Kok bisa? Pasalnya saat ini hanya ada satu sarana transportasi untuk menyambangi kota ini, yaitu lewat jalan darat. Perjalanan dimulai dari Kabupaten Bangkalan lalu membelah dua kabupaten lainnya, Sampang dan Pamekasan, sebelum akhirnya tiba di Sumenep.  Jadi pas sampai di Kota Sumenep, secara otomatis sudah berkeliling pulau.

Kecil. Sepi. Tenang. Panas. Itulah beberapa kesan pertama sewaktu menginjakkan kaki di kota ini. Walaupun hanya sebuah kota kecil, Sumenep punya sejarah yang cukup menarik. Raden Wijaya, pendiri dan raja pertama Majapahit, pernah mengungsi ke kota ini. Kala itu penguasa daerah atau Adipati Sumenep adalah Aria Wiraraja. Berkat bantuannya, Raden Wijaya dapat menyelamatkan diri dari kejaran pasukan Jayakatwang dari Kerajaan Kadiri yang pada waktu itu telah menghancurkan Kerajaan Singhasari. Atas sarannya pula, Jayakatwang akhirnya mengampuni Raden Wijaya bahkan memberikan tanah di Hutan Tarik untuk dijadikan perkampungan.

Salah satu peninggalan Kerajaan Sumenep yang masih lestari hingga kini adalah Keraton Sumenep. Istana para adipati/raja Sumenep ini memiliki nama resmi Karaton Pajagalan atau Karaton Songennep. Pembangunannya dimulai pada tahun 1781 di atas tanah milik Panembahan Somala. Uniknya pengerjaan pembangunannya diarsiteki seorang warga keturunan Tionghoa bernama Lauw Piango. Itulah sebabnya bangunan keraton ini sangat kental dengan pengaruh arsitektur Cina.

Bangunan Kraton Sumenep

Salah satu bangunan utama Kraton Sumenep

Lambang Keraton Sumenep

Lambang Keraton Sumenep

Pada masa kerajaan-kerajaan dulu, Sumenep pada dasarnya hanyalah sebuah kerajaan kecil yang lebih tepat disebut sebagai kadipaten. Secara struktural posisinya berada di bawah kerajaan  yang lebih besar seperti Singhasari, Majapahit, hingga Mataram. Jadi jangan membayangkan Keraton Sumenep semegah keraton yang ada di Yogyakarta atau Solo.

Meskipun tak lagi digunakan sebagai tempat tinggal para keturunan raja, keraton ini masih memiliki kondisi yang cukup bagus. Salah satu bangunannya, yaitu Gedong Negeri, bahkan kini digunakan sebagai kantor oleh Disbudpora Sumenep. Bangunan selebihnya telah beralih fungsi sebagai museum yang dapat dikunjungi oleh khalayak ramai.

Bangunan Mandiyoso di Keraton Sumenep

Mandiyoso, bangunan penghubung Karaton Dhalem dan Pendopo Agung

Pendopo Agung

Bangunan Pendopo Agung Keraton Sumenep

Bagian luar Pendopo Agung Keraton Sumenep

Pendopo Agung tampak dari luar

Kompleks bangunan keraton ini pun tak selengkap Keraton Yogyakarta. Bangunan yang ada tediri dari kompleks Karaton Dhalem, Gedong Negeri, Pengadilan Karaton, Paseban (Pendopo Agung), Taman Sare, Labhang Mesem, dan beberapa bangunan pribadi keluarga keraton. Di awal pembagunannya keraton tidaklah seluas yang ada saat ini. Beberapa bangunan merupakan penambahan dari para penerus Panembahan Somala.

Bahkan Gedong Negeri kabarnya baru ada di zaman penjajahan Belanda. Konon penguasa Belanda kala itu ingin menandingi kewibawaan bangunan Keraton Sumenep. Untuk itu dibangunlah sebuah bangunan di bagian depan kompleks keraton. Gedong Negeri ini sekaligus juga digunakan oleh Belanda untuk mengawasi setiap gerak-gerik yang terjadi di dalam keraton.

Saya jadi teringat sejarah pembangunan Benteng Vredeburg di depan Keraton Yogyakarta saat mengetahui kisah ini. Memang jika diperhatikan dari jalan yang ada di depan kompleks keraton, Gedong Negeri seolah menutupi gedung-gedung keraton di dalamnya.

Gedong Negeri Keraton Sumenep

Gedong Negeri peninggalan Belanda

Pintu gerbang Kraton Sumenep

Labhang mesem atau pintu tersenyum

Pintu masuk terletak bersebelahan dengan Gedong Negeri ini. Gerbang ini diberi nama Labhang Mesem atau pintu tersenyum dalam bahasa Indonesia. Bangunan ini konon memiliki filosofi yang sama dengan namanya. Di atasnya terdapat loteng yang dulunya digunakan untuk memantau aktivitas yang terjadi di sekitar kraton.

Tak jauh dari Labhang Mesem dan Pendopo Agung terdapat bangunan bernama Taman Sare. Sebuah kompleks pemandian putra/putri adipati. Bagunan ini dilindungi oleh tembok yang cukup tinggi sehingga tertutup dari lingkungan sekitarnya. Pastinya dulu para putra dan putri adipati sangat senang bermain di taman ini. Suasananya sangat asri dihiasi beberapa pohon. Selain itu terdapat juga bangunan kecil mirip gazebo sebagai tempat bersantai.

Taman Sare Kraton Sumenep

Kolam di kompleks Taman Sare

Gazebo kecil di Taman Sare Kraton Sumenep

Bangunan kecil di dalam Taman Sare

Saat ini Taman Sare sudah tidak digunakan lagi. Penghuninya pun sudah berganti menjadi ikan-ikan emas yang berenang bebas ke sana ke mari. Apabila anak-anak raja masih tinggal di kraton ini hingga sekarang, mereka mungkin akan meminta dibangunkan kolam renang berkelas internasional sebagai tempat bermain :D.

Nah kalau rekan-rekan berwisata ke Madura, jangan lupa mampir ke Kraton Sumenep ini ya. Museum dan keraton selalu terbuka kok setiap hari untuk siapa saja yang ingin tahu lebih banyak tentang sejarah Sumenep dan Madura pada umumnya.

About The Author "rotyyu"

Komentar Facebook:

30 thoughts on “Tak Hanya Jogja, Sumenep Juga Punya Keraton

  1. konon katanya yang mandi di kolam itu ganteng atau kecantikannya akan bertambah loh 😀 *mitos
    karena kolam itu tempat mandinya bidadari2 *konon katanya

  2. sebentar-sebentar, itu lambang Keraton Sumenep kok mirip lambang kerajaan di Eropa? Ini lambang jangan-jangan dibuat oleh pihak Belanda. Apa dulu keraton ini memihak Belanda ya?

    • Mawi Wijna: Kalau memihak Belanda kurang tahu juga, tapi katanya Keraton Sumenep itu lumayan terpengaruh oleh Inggris. Salah satu kereta kencana yg hingga kini masih tersimpan di musiumnya konon adalah pemberian ratu dari Inggris.

  3. Di indonesia memang ada banyak keraton, selain Jogja dan Sumenep ada juga di Cirebon, Banten, bahkan di Banjarmasin dan Ternate juga ada.. Ini peninggalan sejarah yg perlu dijaga dan dilestarikan..

  4. Wah saya baru tahu mengenani keraton Sumenep dari ulasan ini. Interiornya tetap bagus dan eksklusif walau di bangun beberapa abad lalu. Semoga kita semua bisa tetap menjaga warisan budaya ini …

  5. Adanya Taman Sare itu membuat keraton ini agak mirip dengan keraton Jogja yang punya Taman Sari hehe. Btw kok lambang keratonnya bergaya Eropa banget ya? Kuda terbang dan naga bersayap kelelawar (ilustrasi naga versi Eropa). Kalau ilustrasi naga versi Cina biasanya nggak bersayap, cuma kayak ular.

    • Matius Teguh Nugroho: Konon salah satu adipatinya sangat akrab dengan pembesar Inggris di Indonesia. Bahkan saya pernah baca kalau buku ‘History of Java’ ditulis oleh Thomas Stanford dng bantuan salah seorang pangeran dari Kadipaten Sumenep.

  6. Duh, cantiknya Keraton Sumenep ! Jadi makin pengin dolan ke Madura, dari 2011 pengin pengin tok, belom kesampean sampe sekarang .. 😉

    Btw, salam kenal ya, Kak ..

  7. Baru tahu kalau di Madura ternyata ada keraton kak. Walaupun tak selengkap dan tak sebesar Keraton Yogya, Keraton di Sumenep ini cukup menarik dan bikin penasaran juga nih.

  8. Wah jadi pengen kesana nih kapan2. Waktu itu eksplor Madura baru sampai Pamekasan aja. Nanggung ya padahal, tinggal dikit lagi sampai Sumenep. Btw, apakah Keraton Sumenep ini masih digunakan untuk acara-acara kebudayaan keluarga keturunan para raja Sumenep?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi