Adu Ketahanan Fisik Di Lomba Lintas Alam Lindri Landrock 2014

“Kita ga dapat kursi, Bang!” seru Wahyu begitu aku tiba di Stasiun Kota Surabaya. Aku sempat tak percaya mendengar kabar itu. Sepengetahuanku, PT Kereta Api Indonesia sudah tak lagi menjual tiket untuk penumpang berdiri. Apa mungkin itu hanya berlaku untuk kereta jarak jauh? Bisa jadi. Selama ini aku belum pernah naik kereta untuk jarak yang cukup dekat. Tapi ya sudahlah, toh jarak Surabaya ke Tulungagung juga tak terlalu jauh. Menurut keterangan yang tertera di tiket, kereta yang kami tumpangi akan tiba pukul 15.00 WIB. Keberangkatan dari Surabaya sendiri dijadwalkan pukul 10.30 WIB.

Pagi itu, suasana di Statiun Semut—nama lain Stasiun Kota—cukup ramai. Satu kelompok anak muda tampak di dekat pintu masuk. Lalu aku masih melihat lagi sekelompok anak pramuka di ruang tunggu. Sepertinya mereka hendak berangkat ke Tulungagung juga. Lomba lintas alam Lindri Landrock memang sudah cukup membumi di kalangan pecinta alam. Kegiatan ini bahkan pernah masuk catatan MURI sebagai lomba lintas alam dengan peserta terbanyak. Tak kurang dari 2500 orang setiap tahunnya terdaftar mengikuti acara yang menguras tenaga ini.

Stasiun Tulungagung pun tak kalah ramai di sore hari saat kami berempat sampai. Puluhan orang dengan tas backpack, sepatu bot, dan pernak-pernik anak alam lainnya membanjiri stasiun. Sialnya kepalaku tiba-tiba terasa berat sekali. Rasa pusing yang sangat hebat menyerang begitu saja. Perut juga terasa mual. Sesuatu dari dalam sana seakan hendak memaksa untuk keluar lewat mulut. Ususku terasa seperti diaduk-aduk. Cairan dengan rasa asin membanjiri kerongkongan. Rasa mual itu semakin kuat saja. Namun ia tak juga keluar saat aku sudah berjongkok di kamar mandi di depan stasiun.

Akhirnya aku terpaksa makan nasi campur dengan mulut yang terasa pahit. Semuanya jadi hambar. Lauk-pauknya yang tampak menggoda aku singkirkan. Baunya yang tajam bisa memancing rasa mual tadi muncul lagi. Jadilah aku makan nasi doang. Walau begitu aku tetap menghabiskan nasi itu. Tak ada pilihan lain, aku butuh energi tengah malam nanti.

Peserta Lindri Landrock XXIV

Kerumunan peserta di titik start

Hari mulai gelap ketika bus yang penuh dengan peserta lomba Lindri Landrock tiba di lokasi start. Ternyata dari stasiun, kami masih harus berjalan kaki cukup jauh ke terminal untuk kemudian menumpang bus. Karena tak membawa tenda kami memilih untuk beristirahat di sebuah gedung SD. Aku langsung saja menggelar jas hujan sebagai alas di lantai. Aku lantas rebahan di atasnya. Mencoba meringankan rasa sakit yang masih menggelayuti kepala. Aku bahkan sempat mempertimbangkan keikutsertaanku di lomba ini.

Namun waktu masih sedikit berpihak padaku. Rasa sakit itu tak terlalu menyiksa lagi saat hampir tengah malam aku terbangun. Kami segera bersiap-siap. Mengenakan t-shirt yang disediakan panitia. Mengganti sandal dengan sepatu. Memilih barang-barang yang harus dibawa. Sebelum akhirnya melangkahkan kaki ke titik awal lomba. Suasana sudah sangat ramai di sana. Ribuan peserta mengenakan kaos yang sama berdesak-desakan di jalan di depan sebuah tanah lapang. Pengumuman-pengumaman penting meluncur dari pengeras suara panitia.

Lomba lintas alam Lindri Landrock akan dimulai pukul 00.00 WIB. Tepat tengah malam. Peserta perorangan putra akan berangkat paling awal. Disusul perorangan putri. Lalu beregu putri. Sedangkan beregu putra dan beregu campuran berangkat paling akhir. Memberangkatkan 2500 peserta ternyata butuh waktu yang lama. Peserta beregu putra baru berangkat pukul 02.00 WIB. Hampir 2 jam setelah peserta perorangan putra terakhir memulai perjalanannya.

Track Lindri Landrock XXIV

Salah satu track di Lindri Landrock 2014

Sarapan di lomba Lindri Landrock XXIV

Peserta lomba menyiapkan sarapan di perjalanan

Lomba Lindri Landrock menempuh jalur sepanjang 25 KM. Setiap peserta akan melewati empat pos di sepanjang jalur tersebut. Sebagai sebuah lomba lintas alam, lintasan yang disediakan panitia cukup beragam. Mendaki bukit, menuruni lembah, menyeberangi sungai, melewati hutan, melintasi persawahan, hingga menyusuri lintasan sungai berbatu.

Lintasan awal dari titik start masih cukup datar, berada di tengah rumah-rumah penduduk. Perubahan drastis terjadi setelah melewati kawasan pemukiman. Rombongan peserta lomba terpaksa berhenti, menunggu peserta lain yang jauh di depan sana menyeberangi saluran irigasi. Jalanan mulai mendaki memasuki hutan jati. Aku tersadar kalau hutan ini sesungguhnya juga merupakan kompleks kuburan penduduk Tionghoa ketika mengarahkan senter kepala ke dalam hutan.

Aksi narsis peserta Lindri Landrock XXIV

Ada juga yang sadar kamera di tengah lomba

Lintasan ekstrim lomba Lindri Landrock

Jalur menurun yang curam langsung disambut jalur menanjak

Hutan jati ini semakin lebat. Di kiri-kanan, kuburan-kuburan berukuran besar tampak berlomba mendekat ke lintasan. Di ujung hutan jalanan mulai menurun. Lintasan berubah dari jalan besar yang sudah dibatui menjadi jalan tanah yang becek dan licin. Beberapa kali terjadi kemacetan. Para peserta harus bersabar menunggu giliran melintasi jalur yang terlalu sempit. Tak jarang pula para peserta harus berhenti memilih jalur yang hendak dituruni. Sementara malam terus bergulir.

Aku hampir saja terjatuh, tak bisa mengendalikan kecepatan lariku di jalanan menurun yang licin. Refleks tanganku meraih batang pohon di depan. Maksud hati hendak mengerem agar tak tercebur ke persawahan. Celakanya pohon itu berduri. Aku meringis. Perih. Darah mengalir dari telapak tangan kananku. Ada dua luka di dekat jari telunjuk.

Sawah kosong yang hanya digenangi air itu tiba-tiba menjadi sangat ramai. Ratusan peserta meniti pematang sawah dengan hati-hati. Pematang sawah yang kecil itu semakin kecil tatkala banyak peserta yang tergelincir atau terjatuh. Beberapa peserta akhirnya nekat masuk ke sawah. Berjalan di atas lumpur yang digenangi air. Kami pun akhirnya mengikuti cara itu. Nyebur ke lumpur, melangkah tertatih-tatih karena kaki terbenam hingga lutut.

Hutan jadi di Lindri Landrock 2014

Melewati hutan jati

Lintasan sawah Lindri Landrock XXIV

Melintasi persawahan penduduk

Sejam kemudian kami harus menyeberangi satu danau kecil yang cukup dalam. Lagi-lagi antrian cukup panjang mengular di lintasan lomba. Aku terpaksa harus melompati jurang di sebelah kanan jalan. Tak sabar ingin segera berlalu dari keramaian. Penyeberangan harus dilakukan bergiliran. Panitia hanya menyediakan satu tali pengaman. Aku sempat bingung bagaimana mengamankan kamera DSLR yang aku tenteng. Saat mulai memasuki air keruh berwarna coklat kekuningan, tangan kiriku memegang tas berisi kamera tinggi-tinggi di udara. Sementara tangan kanan berpegangan pada tali pengaman. Hampir saja tergelincir saat berada di tengah danau.

Tantangan lain segera menyambut sesampainya di seberang. Sebuah tebing yang tak terlalu tinggi harus dinaiki peserta dengan bantuan tali. Tanahnya sudah sangat licin dan becek berkat air yang dibawa pakaian peserta dari danau. Peserta putra tak tampak mengalami kesulitan dengan tantangan ini. Sebaliknya para peserta putri harus berjuang keras menaiki tebing yang licin.

Lintasan Lindri Landrock becek

Jalanan becek dan licin

Peserta lomba menyusuri sungai

Menyusuri sungai

Para peserta menyeberangi sungai

Menyeberangi sungai

Pagi hampir menjelang ketika timku tiba di Pos I. Setelah istirahat sebentar dan membasuhi tenggorokan, kami segera melanjutkan perjalanan. Lagi-lagi lintasan di tengah persawahan menuntut kehati-hatian. Pematang yang sempit tak jarang memakan korban. Banyak peserta yang tergelincir. Terjatuh. Merusak pematang. Menambah kesulitan bagi peserta yang datang belakangan.

Perjalanan dari pos ke pos sungguh melelahkan. Sering kali kami mengira sudah melewatkan pos tempat melapor. Namun ternyata pos yang dirindukan masih sangat jauh di depan sana. Tak jarang pula panitia yang berada di titik-titik tertentu mengiming-imingi peserta. Mereka berkata pos terdekat tinggal beberapa kilometer lagi. Harapan palsu. Peserta masih harus naik bukit, turun lembah, menyeberangi sungai, menerobos hutan agar sampai di pos selanjutnya.

Lintasan bukit terjal Lindri Landrock

Mendaki bukit terjal

Lintasan hutan di Lindri Landrock

Menerobos hutan

Lagi-lagi menyeberangi sungai

Lagi-lagi menyeberangi sungai

Singkat cerita, setelah berkali-kali mendaki bukit, menuruni lembah, memanjat tebing, menyeberangi sungai, menerobos hutan, meniti pematang sawah, dan melalui empat pos, akhirnya kami sampai juga di titik akhir lomba. Jam menunjukkan pukul 10.30 WIB, jadi kami berjalan tak kurang dari delapan jam. Sungguh perjalanan yang melelahkan.

About The Author "rotyyu"

Komentar Facebook:

10 thoughts on “Adu Ketahanan Fisik Di Lomba Lintas Alam Lindri Landrock 2014

  1. Pesertanya mencapai 2.500 orang per tahun, banyak banget tu mas. Banyak peserta makin seru dan meriah tapi kesempatan untuk menang jadi tipis 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi