Asta Tinggi: Kompleks Pemakaman Raja-raja Sumenep

Sebenarnya pagi itu saya sudah harus kembali ke Bangkalan. Namun karena tak mau rugi, saya ngotot minta diantarkan ke Asta Tinggi sebelum ke terminal bis. Untungnya Mas Dedy tak keberatan menemani saya dan rombongan ke makam para raja Sumenep itu. Setelah memastikan tak ada barang-barang yang tertinggal, mobil yang saya tumpangi segera melaju ke sebuah perbukitan di utara Kota Sumenep. Pagi itu suasana masih belum terlalu ramai. Udara juga masih terasa sejuk. Tanah masih sedikit basah akibat guyuran hujan semalam.

Asta Tinggi secara etimologi berarti makam yang berada di tempat tinggi. Di tempat inilah para raja-raja dari Kesultanan Sumenep dimakamkan. Tak perlu heran dengan luasnya kompleks pemakaman karena kerabat para raja juga dimakamkan di sini. Untuk membedakannya bukan perkara yang sulit, para raja maupun permaisurinya diletakkan di dalam kubah-kubah terpisah dari kerabat keraton.

Pintu masuk Asta Tinggi

Pintu masuk Asta Tinggi

Berdasarkan catatan sejarah, kompleks Asta Tinggi dibangun sekitar tahun 1750 M selama tiga masa pemerintahan. Dimulai dari masa Panembahan Somala kemudian dilanjutkan oleh Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I dan Panembahan Natakusuma II. Konon makam pertama yang terdapat di kompleks ini adalah makam Raden Mas Pangeran Anggadipa dan Raden Ayu  Mas Ireng, permaisurinya.

Dalam perkembangannya Asta Tinggi dibagi menjadi dua kompleks asta yang letaknya hanya dipisahkan oleh sebuah tembok. Kompleks asta di bagian barat memiliki corak yang lebih dekat dengan Jawa. Terdapat tiga kubah utama di bagian ini dengan masing-masing kubah berisi tiga hingga enam makam.

Di kubah pertama terdapat makam Raden Ayu Mas Ireng, Pangeran Anggadipa, Pangeran Wirosari, Pangeran Rama, Raden Ayu Artak (istri Pangeran Panji Polang Jiwa), dan Pangeran Panji Polang Jiwa. Di kubah dua terdapat makam Ratu Ari, Pangeran Jimat, dan Raden Aria Wironegoro. Di kubah terakhir terdapat makam Raden Bendara Moh. Saod, Raden Ayu Dewi Resmana, dan beberapa makam lainnya.

Di kompleks asta bagian timur yang bercorak Cina, Eropa, Arap, dan Jawa hanya ada satu kubah yang di dalamnya terdapat beberapa makam seperti makam Panembahan Notokusumo I (Asiruddin), Sri Sultan Abdoerrahman Pakoenataningrat, Panembahan Moh. Soleh Notokusumo, Pangeran Pakunataningrat Mangkuadiningrat, R. A. Panembahan Moh. Soleh Notokusumo, Kanjeng Ratu Prawirodiningrat, R. A. Hatsah binti Panembahan Notokusumo, R. A. Panembahan Sumolo, R. Arjo Pratamingkusumo Abd. Mohaimin, R. Arjo Prabuwinoto Moh. Tahir, R. A. Prabuwinoto, R. A. Pakunataningrat, R. Arjo Atmodjokusumo, dan Pangeran Suringrat.

Saya memilih untuk memasuki kompleks asta di bagian timur terlebih dulu. Dari pintu gerbang masuk di tempat parkir, saya cukup berjalan lurus saja. Sedangkan untuk kompleks asta di bagian barat saya harus menambil jalan di sebelah kiri saat masuk dari tempat parkir.

Pintu masuk ke kompleks Asta Tinggi bagian timur ini cukup megah dengan arsitektur Eropa yang cukup kental. Di bagian puncak gerbang terdapat lima aksesoris yang bagi saya tampak menyerupai piala. Di kanan maupun kiri pintu gerbang terdapat prasasti yang ditulis menggunakan aksara Arab.

Salah satu kubah di Asta Tinggi

Kubah di asta bagian timur

Bagian dalam kubah di Asta Tinggi

Bagian dalam kubah di kompleks asta bagian timur

Makam-makam di kompleks bagian timur

Makam-makam di kompleks bagian timur

Pagi itu seorang petugas kebersihan sedang membersikan bagian luar kubah. Ketika saya memasuki kubah, udaranya terasa lembab. Batu nisan tiap makam ditutupi dengan kain berwarna putih, kuning, atau hijau. Untungya di pintu masuk kubah ini terdapat keterangan makam-makam di dalamnya. Sehingga saya tidak perlu bingung yang mana makam siapa. Di salah satu makam tampak seorang laki-laki tua sedang membaca ayat-ayat suci. Karena tak mau mengganggu kekhusyukannya, saya hanya melihat-lihat sebentar lalu mengambil beberapa gambar.

Makam-makam di luar kubah tampak tidak terurus. Kebanyakan sudah agak sulit mengenali tulisan di nisannya. Salah satu kuburan cukup unik karena terdapat sebuah nisan lagi di atasnya. Menurut keterangan dari Mas Dedy, kemungkinan besar orang yang dimakamkan di kuburan tersebut sedang mengandung ketika meninggal. Saya hanya mengangguk-angguk saja mendengar penjelasan itu.

Saya kemudian melanjutkan ke kompleks makam di bagian barat. Terdapat dua pintu lagi di kompleks ini untuk masuk ke lokasi tiga kubah makam para raja. Di sini juga terdapat satu bangunan seperti pendopo. Lantainya terbuat dari keramik. Saya sempat beristirahat cukup lama setelah melihat tiga kubah di kompleks ini.

Makam berukiran di Asta Tinggi

Salah satu makam dengan pola ukiran di sisinya

Makam di bagian barat Asta Tinggi

Makam-makam di bagian barat

Makam lain di Asta Tinggi

Usang dimakan waktu

Selain makam-makam di dalam kompleks Asta Tinggi yang sudah dilindungi dengan tembok, di luar kompleks ini juga masih terdapat makam lainnya. Makam yang berada di luar lebih tidak terawat lagi. Kebanyakan sudah ditumbuhi rumput-rumput yang cukup tinggi. Pola batu nisannya masih sama dengan yang ada di dalam kompleks. Bahkan terdapat juga satu kubah lain di luar kompleks. Di dalamnya ada dua makam yang terbuat dari batu marmer. Sama seperti makam lain, nisan kedua makam tersebut juga ditutupi dengan kain berwarna putih.

Makam di luar kompleks Asta Tinggi

Ditumbuhi rumput-rumput liar

Kubah di luar Asta Tinggi

Kubah lainnya

Keberadaan kubah di luar Asta Tinggi ini sempat membuat saya bertanya-tanya. Mengapa diletakkan di luar? Mengapa pula tak ada yang merawatnya lagi? Namun sepertinya saya harus memendam tanya itu dalam hati. Saya harus segera beranjak mengejar bus ke Bangkalan. Mungkin lain kali saya akan ke sini lagi, sekalian mencari informasi tentang mitos keberadaan makam Pangeran Diponegoro di Asta Tinggi.

About The Author "rotyyu"

Komentar Facebook:

46 thoughts on “Asta Tinggi: Kompleks Pemakaman Raja-raja Sumenep

  1. raja-raja sumenep ini masuknya kerajaan islam kan mas?
    tapi kenapa ya raja-raja masih menggunakan kijing padahal kalau raja-raja ini beragama islam biasanya ngga ada kijingnya..

    • Baktiar: Kalau yg di luar itu, saya juga kurang tahu masih kuburan raja atau bukan. Tapi salah satunya memang diberi kubah, artinya masih termasuk orang penting.

    • Annosmile: Dulu sih katanya kompleks makam ini termasuk tempat yg dikeramatkan di Sumenep tapi sekarang udah ga lagi. Semakin banyak pengunjung yg berziarah. Kesan angker pun makin hilang.

    • Mas Cumi: Mungkin karena dulu banyak saudagar Cina yang mampir dan berdagang di Pulau Madura. Nah itu dia mas, konon Pangeran Diponegoro ga pernah sama sekali ditangkap Belanda. Tapi ini baru mitos, masih butuh pembuktian.

  2. Makam menyimpan banyak cerita, dari arsitektur, budaya, juga agama. Tapi sayang ya, sepertinya kompleks makam reja-raja ini sepertinya kurang terawat.

    • Spotwisata: Betul sekali. Semoga suatu saat pemkab di sana bisa tersadar kalau Asta Tinggi ini sesungguhnya aset yg sangat berharga.

Leave a Reply to Spotwisata Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi