Uniknya Kasur Pasir Dari Desa Legung Sumenep

Hujan yang mengguyur Sumenep siang itu mulai reda. Namun langit masih saja kelabu. Awan-awan hitam tak bosan-bosannya menggantung di atas sana. Kami berlima beranjak dari rumah menuju mobil sewaan yang terparkir di pinggir jalan. Mesinnya menderu keras seiring kunci kontak diputar dan pedal gas diinjak sang supir. Roda-roda mobil itu lalu mulai menggilas sisa-sisa air hujan di aspal. Menimbulkan cipratan-cipratan kecil di sepanjang jalan. Tak lupa mereka meninggalkan jejak yang membelah hitamnya jalanan, sebelum akhirnya menghilang lalu muncul kembali saat mobil-mobil lainnya lewat.

Tujuan kami adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Batang-batang. Letaknya hanya sekitar 3 km ke arah barat Pantai Lombang yang menjadi salah satu pesona wisata Madura di Kabupaten Sumenep. Nama desa itu adalah Desa Legung yang terbagi menjadi dua, Legung Timur dan Legung Barat. Butuh perjalanan hampir sejam dari Kota Sumenep untuk sampai ke Desa Legung. Desa ini cukup menarik layaknya Desa Aeng Tongtong yang dipenuhi para mpu pembuat keris. Apa yang unik dari desa ini yang membuatnya layak dikunjungi? Yuk mari kita telusuri lebih jauh.

Sebenarnya desa ini sudah pernah beberapa kali masuk acara jalan-jalan di beberapa stasiun televisi nasional. Letaknya yang cukup terpencil yang mungkin membuatnya masih jarang dikunjungi wisatawan. Saat pertama kali sampai, saya sebenarnya tak melihat sesuatu yang istimewa. Semuanya tampak normal layaknya desa-desa lain. Tapi coba perhatikan lagi lebih seksama! Bila perlu kerahkan sedikit tenaga dalam. Loh memangnya kita sedang di cerita Wiro Sableng? Tentu saja tidak kawan :D. Ternyata setelah saya teliti lagi, halaman rumah-rumah di desa ini bukan tanah melainkan pasir. Lalu apanya yang spesial? Bukannya semua desa di dekat pantai juga begitu?

Kasur pasir

Kasur pasir

Kalau tak menemukan sesuatu yang unik di luar rumah, mungkin kami akan menemukannya di dalam rumah. Penduduk di desa ini cukup ramah untuk menyambut pengunjung yang hendak masuk ke rumahnya. Kami memilih secara acak saja salah satu rumah penduduk. Setelah bertukar sapa, sang tuan rumah mempesilakan kami masuk. Pemilik rumah adalah seorang bapak bertubuh cukup tambun. Ia segera saja menunjukkan kamar di rumahnya yang setengahnya dipenuhi pasir berwarna kuning keemasan. Nah sepertinya saya sudah menemukan keunikan desa ini.

Percaya atau tidak hampir semua penduduk Desa Legung tidur di atas kasur yang terbuat dari pasir. Hampir semua kamar tidur di desa ini memiliki kasur pasir. Walaupun sudah ada kasur dari kapuk atau bahan lainnya, mereka masih tetap memelihara tradisi tidur di atas pasir. Menurut cerita dari bapak yang menjadi tuan rumah kami siang itu, tradisi ini sudah berlangsung selama ratusan tahun secara turun-temurun. Bahkan kebanyakan anak di Desa Legung dilahirkan di atas pasir juga. Jadi, sedari kecil mereka memang sudah akrab dengan kasur berpasir. Mereka lahir, bermain, bertumbuh, berkembang, dan menjadi dewasa di atas pasir. Tak heran beberapa orang yang sudah mengunjungi tempat ini menyebut mereka sebagai “manusia pasir”.

Tiduran di kasur pasir

Mencoba tiduran di kasur pasir

Kasur pasir di kamar lainnya

Kasur pasir di kamar lainnya

Uniknya pasir yang digunakan sebagai kasur bertekstur sangat halus dan lembut. Saat digunakan untuk rebahan memberikan efek sejuk dan nyaman. Butiran-butiran pasir di desa ini juga tak lengket di kulit saat kita beranjak dari kasur. Untuk menjaga kebersihan, kasur-kasur pasir ini selalu dijemur secara rutin. Selain itu pasir juga akan diganti selang beberapa waktu digunakan. Pasirnya sendiri diambil dari lokasi yang terletak di dekat Pantai Lombang. Sebelum digunakan pasir akan diayak untuk memastikan tak ada batu atau benda berbahaya lain di dalamnya. Pasir lalu dijemur agar tak basah atau lembab.

Setelah melihat sendiri keunikan Desa Legung ini saya langsung berujar dalam hati, “Mereka yang tidur telungkup pasti tidak menyukai tidur di kasur pasir ini.” Setuju?

About The Author "rotyyu"

Komentar Facebook:

42 thoughts on “Uniknya Kasur Pasir Dari Desa Legung Sumenep

    • Indah Julianti Sibarani: Hahaha, habisnya tak ada model lain lagi :D. Kalau cara menjemurnya itu belum tahu, masih perlu diteliti lebih lanjut lagi ke sana sepertinya.

  1. Aku suka prolognya. Keren.
    Baru ingat kalau ke sana, pas waktu setelah hujan. Romantis, sayang cowok semua.

    Fotoku keren juga yak. Jangan-jangan tertidur beneran itu.

  2. sepertinya perlu nyobain tidur di atas pasir ne….wah saya yang asli madura belum pernah desa Legung hehe…sang Bocah Petualang tinggal dimana yach…pengin ketemuan kalau pas lagi mudik hehe…trus diajakin jalan bareng degh….hhehe

  3. Lihat foto paling atas saya kira kasur yang dialasi kertas semen coklat, baru pas lihat tangan Slamet nebar pasir itu saya percaya. ternyata emang pasir beneran toh? serius? ah jadi penasaran nyobain tidur disana..

  4. Eini beneran ya? Unik banget ya. Kok sama sekali nggak pernah diekspos oleh media ya. Keren euy, asal jangan tidur nya telungkup aja hehehe

  5. kebetulan saya lagi tugas di desa legung, pasir sebagai ganti kasur tsb,sebenarnya dicuci berkali kali min 3x baru diayak dan dijemur biar suci dari najis , terutama digunakan setelah baru datang melaut biar tambah dingin dan segar,malah kl keadaan begini biasanya badannya ditutupi semuanya dgn pasir kecuali kepala,biar tambah adem, tp kl tidur biasa tidak sehabis melaut ya tidur diatas pasir tsb tanpa diluluri pasir, dan pasirnya memang tidak lengket ke badan ato pakaian, mgk krn perlakuan thd pasir tersebut diatas

  6. Saya baru dengar soal kasur pasir. Ini masih satu desa di daerah Sumenep, pasti ada desa2 lainnya se-Indonesia yang memiliki keunikannya masing2
    Semoga setelah terpubishnya postingan ini jadi makin banyak yang tahu dan singgah ke sana 🙂

Leave a Reply to Gambar Lucu Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi