Aeng Tongtong, Desa Para Mpu Pembuat Keris Di Sumenep

Pagi itu saya bersama lima orang lainnya memacu kendaraan sewaan ke arah barat Kota Sumenep. Lepas dari keramaian kota, mobil berplat M yang kami tumpangi terus bergerak menyusuri jalan utama yang menghubungkan Sumenep dengan tiga kabupaten lainnya di Pulau Madura. Suasana yang kontras tampak selepas melewati gapura selamat datang. Jika sebelumnya yang ada di pinggir jalan adalah rumah penduduk, toko, perkantoran, sekolah, atau kampus, kini semua itu telah berganti dengan pohon cemara udang. Sejurus kemudian tampak pula tambak-tambak garam membentang di sisi kanan maupun kiri jalan. Tambak-tambak itu dibagi menjadi petakan yang dipisahkan pematang yang cukup besar dan tinggi. Di beberapa tempat di pematang itu terlihat pohon-pohon bakau tumbuh dengan kokoh. Saya tak melihat ada kesibukan di sana, mungkin karena sedang musim penghujan.

Setelah melaju cukup jauh dari pusat Kota Sumenep, mobil yang saya tumpangi kemudian berbelok ke kanan meninggalkan jalanan beraspal. Mobil mulai berguncang-guncang kecil efek dari jalan desa yang hanya dilapisi batu-batu padas atau aspal kasar yang tampaknya sudah lama tak dipoles ulang. Walaupun kata orang tanah Madura tak subur, saat itu saya melihat sesuatu yang berbeda. Mata saya cukup dimanjakan dengan pemandangan kebun-kebun penduduk yang ditanami jagung. Daun-daun tanaman itu tampak subur berwarna hijau. Semuanya masih dalam proses tumbuh kembang. Mungkin sebulan lagi baru akan tampak tongkol jagung bermunculan di sana.

Tujuan saya pagi itu sebenarnya adalah sebuah desa bernama Aeng Tongtong. Sebuah desa yang terletak di sebelah barat laut Kecamatan Saronggi, tidak terlalu jauh dari pusat Kota Sumenep. Jika datang dari arah Pamekasan, kita akan melewati lokasi desa ini sebelum masuk ke kota.Β Desa ini sudah tersohor hingga ke mancanegara sebagai pusat pembuatan keris berkualitas tinggi. Sayangnya tak banyak orang Madura yang tahu keberadaan desa tersebut. Saya sendiri mengenal Desa Aeng Tongtong dari sebuah artikel di koran Kompas. Penulisnya telah berhasil membuka mata saya akan satu lagi tempat penuh pesona di Pulau Garam. Meski bukan seorang kolektor keris, sejak itu saya sudah memendam keingingan mengunjunginya.

Bentuk awal sebuah keris

Bentuk awal sebuah keris

Seorang pembuat keris

Seorang pembuat keris

Proses pembuatan keris

Proses pembuatan keris

Namun alangkah terkejutnya saya karena setelah memarkirkan mobil apa yang terlihat di depan mata bukanlah seperti apa yang terbayang di kepala. Saya tak mendengar bunyi denting palu beradu dengan besi bahan baku pembuatan keris. Tak ada deru mesin gerinda yang sedang menghaluskan lekukan keris yang hampir jadi. Saya tak pula menyaksikan sebuah ruangan workshop besar berisi puluhan pembuat keris yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Semuanya tampak sepi. Lengang. Seolah saya sedang berada di sebuah desa tak berpenghuni. Apa mungkin kami salah masuk desa? Sepertinya tidak, pemandu kami seorang Sumenep asli yang sudah berkali-kali berkunjung ke Aeng Tongtong.

Saya dengan yang lainnya lalu menghampiri sebuah rumah atas petunjuk pemandu kami pagi itu. Pemilik rumah itu adalah seorang bapak yang sehari-hari berprofesi sebagai pembuat keris. Dari keterangannya saya akhirnya tahu kalau pembuatan keris di Aeng Tongtong itu dilakukan orang per orang. Hampir semua laki-laki di desa ini memiliki kemampuan mengubah besi biasa menjadi keris penuh lekukan indah. Mereka memang sudah mempelajarinya sedari kecil. Bahkan tak jarang pula anak yang akhirnya putus sekolah karena memilih menjadi pembuat keris. Seperti seorang anak muda yang saya temui tak jauh dari rumah pertama yang kami singgahi. Menurut pengakuannya, ia hanya sempat lulus SD. Saya jadi bingung musti bangga dengan sikap mereka yang begitu ingin melanjutkan tradisi pembuatan keris di desanya atau menyalahkan keadaan yang memaksa mereka berhenti mengeyam pendidikan lebih tinggi.

Beberapa keris yang hampir jadi

Beberapa keris yang hampir jadi

Tiga keris dengan pamor yang berbeda

Tiga keris dengan pamor yang berbeda

Pamor keris berbentuk kepala naga

Pamor keris berbentuk kepala naga

Rumah selanjutnya yang kami kunjungi merupakan tempat tinggal dari seorang klebun (sebutan untuk kepala desa dalam bahasa Madura). Dalam hirarki pembuatan keris, klebun di sini berfungsi sebagai pengepul. Dia lah yang mengumpulkan keris-keris buatan warganya lalu mendistribusikannya ke luar pulau. Di depan rumahnya pagi itu saya melihat sarung-sarung keris berwarna coklat kemerahan sedang dibersihkan sebelum dijemur. Di dalam terasnya puluhan keris dan kujang dipamerkan. Ia seorang tuan rumah yang sangat baik, menjamu kami dengan sangat ramah. Beliau juga banyak bercerita tentang suka duka dalam pemasaran keris buatan desanya.

Di awal cerita beliau bertutur tentang bagaimana orang Belanda memintanya untuk mengajarkan pembuatan keris saat menghadiri pameran di negeri kincir angin itu. Dengan tegas ia menolak. Menurutnya, dengan kepintaran orang barat mereka akan dengan mudah membuat alat yang dapat dengan sangat presisi membuat keris yang kualitasnya sama persis antara satu keris dengan keris lainnya. Hal yang sama tentunya tak berlaku bagi para pembuat keris tradisional yang mengandalkan perasaan dalam prosesnya. Setiap pukulan palu akan membentuk keris yang unik, bahkan untuk pola yang sama sekalipun. Dan justru di sini lah letak seni pembuatan keris. Sebuah keris akan berkurang nilainya bila diproduksi secara massal di pabrik. Begitu kata beliau.

Sarung keris

Sarung keris

Keris yang dipamerkan pada kunjungan presiden

Salah satu keris yang dipamerkan pada kunjungan presiden

Keris dengan bentuk tak lazim

Keris dengan bentuk tak lazim

Cerita lain yang cukup menarik adalah perihal hambatan mendistribusikan keris. Semua orang tentu tahu bahwa keris merupakan benda tajam yang terbuat dari logam. Pak klebun menuturkan sering kali ia terhambat di bandara karena harus berurusan dengan pihak otoritas bandara sebab barang-barang macam keris termasuk terlarang di dalam pesawat. Beliau juga sempat berkeluh kesah tentang sulitnya mendapatkan izin dari pihak kepolisian agar ia lebih mudah mendistribusikan keris-keris dari Aeng Tongtong. Mungkin suatu saat aparat yang berwajib perlu membuat pengecualian untuk benda-benda seperti keris yang digunakan untuk keperluan koleksi barang antik. Pak klebun ini dengan bangga bercerita pula tentang pertemuannya dengan bapak presiden yang sedang berkunjung ke Madura beberapa waktu lalu.

Keris

Keris

Dalam pergantian waktu dari pagi menuju siang kala itu, saya sempat memikirkan kira-kira apa bantuan yang dapat saya berikan untuk para pembuat keris di desa tersebut. Hingga saya beranjak meninggalkan rumah pak klebun lalu kembali ke Kota Sumenep, saya tak kunjung menemukan jawaban untuk pertanyaan itu. Ah…

About The Author "rotyyu"

Komentar Facebook:

25 thoughts on “Aeng Tongtong, Desa Para Mpu Pembuat Keris Di Sumenep

  1. sudah banyak pengrajin keris yang memindahkan cara pembuatannya dari tardisional ke modern
    padahal bila mempertahankan cara pembuatan keris secara modern..kita bisa kembali mengangkat salah satunya dengan mempromosikan wisata melihat pembuatan keris..
    turis2 khsusnya asing banyak yg tertarik dengan pembuatan keris secara tradisional..

    • Annosmile: Di Aent Tongtong, beberapa alatnya memang sudah diganti dengan mesin yg lebih modern karena mereka juga kan ngejar setoran utk keris-keris yg dibuat khusus utk hiasan.

    • Hanif Maladi: Sekarang memang kebanyakan produksi keris di Aeng Tongtong bukan lagi sebagai pusaka melainkan untuk hiasan. Kalau yg pusaka harus dipesan khusus, harganya juga lebih mahal.

  2. Kerennya di desa aeng tong-tong, masyarakatnya juga bisa mensulap proses pembuatan keris modern dan dijadikan keris dg bentuk tradisional.

  3. soal keris memang selalu menarik diceritakan. Entah pembuatannya, sejarahnya, isiannya, bahkan pamornya dan jumlah lekukan kerisnya kalau nggak salah ada ceritanya juga.

  4. aku belum sampai kesini bang. sayangnya kemarin belum bisa ikutan. ingin rasanya satu persatu aku jelajahi bumi Madura ini. Ya meskipun aku tak begitu jago kalo soal tulis menulis, tapi setidaknya aku bisa membantu meskipun hanya sekdar tulisan biasa agar Madura bisa lebih dikenal lagi. πŸ™‚

  5. Ingin sekali bisa menyaksikan langsung pembuatan keris, apalagi dipandu oleh orang-orang yang memang membaktikan hidupnya untuk seni membuat keris tersebut. Sayangnya,pendistribusian keris mengalami kendala ketika berhadapan dengan aparat di bandara (ya, juga itu karena aturannya sih). Itulah sebabnya sampai sekarang saya belum mengirimkan parang (sejenis golok asli sini) yang diminta temen -_-

    • Tuteh: Ayo ke Madura Mbak nanti dibawa ke Aeng Tongtong. Saya sampai sekarang ya masih bingung seandainya mau bawa clurit khas Madura ke kampung di Medan sana, pasti ribet di bandara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi