Archive for January, 2014


Asta Tinggi: Kompleks Pemakaman Raja-raja Sumenep

Sebenarnya pagi itu saya sudah harus kembali ke Bangkalan. Namun karena tak mau rugi, saya ngotot minta diantarkan ke Asta Tinggi sebelum ke terminal bis. Untungnya Mas Dedy tak keberatan menemani saya dan rombongan ke makam para raja Sumenep itu. Setelah memastikan tak ada barang-barang yang tertinggal, mobil yang saya tumpangi segera melaju ke sebuah perbukitan di utara Kota Sumenep. Pagi itu suasana masih belum terlalu ramai. Udara juga masih terasa sejuk. Tanah masih sedikit basah akibat guyuran hujan semalam.


Uniknya Kasur Pasir Dari Desa Legung Sumenep

Hujan yang mengguyur Sumenep siang itu mulai reda. Namun langit masih saja kelabu. Awan-awan hitam tak bosan-bosannya menggantung di atas sana. Kami berlima beranjak dari rumah menuju mobil sewaan yang terparkir di pinggir jalan. Mesinnya menderu keras seiring kunci kontak diputar dan pedal gas diinjak sang supir. Roda-roda mobil itu lalu mulai menggilas sisa-sisa air hujan di aspal. Menimbulkan cipratan-cipratan kecil di sepanjang jalan. Tak lupa mereka meninggalkan jejak yang membelah hitamnya jalanan, sebelum akhirnya menghilang lalu muncul kembali saat mobil-mobil lainnya lewat.


Aeng Tongtong, Desa Para Mpu Pembuat Keris Di Sumenep

Pagi itu saya bersama lima orang lainnya memacu kendaraan sewaan ke arah barat Kota Sumenep. Lepas dari keramaian kota, mobil berplat M yang kami tumpangi terus bergerak menyusuri jalan utama yang menghubungkan Sumenep dengan tiga kabupaten lainnya di Pulau Madura. Suasana yang kontras tampak selepas melewati gapura selamat datang. Jika sebelumnya yang ada di pinggir jalan adalah rumah penduduk, toko, perkantoran, sekolah, atau kampus, kini semua itu telah berganti dengan pohon cemara udang. Sejurus kemudian tampak pula tambak-tambak garam membentang di sisi kanan maupun kiri jalan. Tambak-tambak itu dibagi menjadi petakan yang dipisahkan pematang yang cukup besar dan tinggi. Di beberapa tempat di pematang itu terlihat pohon-pohon bakau tumbuh dengan kokoh. Saya tak melihat ada kesibukan di sana, mungkin karena sedang musim penghujan.


Malam Tahun Baru 2014 Di Surabaya

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, malam tahun baru 2014 ini saya rayakan di dalam keramaian lautan manusia di Kota Pahlawan, Surabaya. Sejujurnya saja, saya bukan termasuk orang yang suka merayakan tahun baru dengan pesta atau hura-hura atau keramaian. Pergantian tahun 2012-2013 yang lalu saya kebetulan sedang mendaki Gunung Semeru, selebihnya saya selalu memilih berdiam diri di rumah kontrakan. Sebenarnya tahun ini pun saya berencana mendaki Gunung Penanggungan di malam pergantian tahun namun batal karena cuaca yang kurang mendukung.

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi