Sumenep, Pesona Madura Di Ujung Timur Pulau

Bagi orang luar, Madura itu tak lebih dari sebuah pulau yang terkenal dengan budaya Karapan Sapi atau produksi garamnya yang melimpah.  Tak sedikit pula yang mengenal Pulau Garam ini dari berbagai stereotip buruk yang berkeliaran dari mulut ke mulut. Banyak yang lupa kalau sesungguhnya Madura punya peranan yang sangat penting dalam proses berdirinya Majapahit, kerajaan terbesar yang pernah ada di Nusantara itu. Mungkin banyak pula yang lupa kalau masyarakat Madura merupakan salah satu yang paling religius di negeri ini.

Sesungguhnya Madura itu adalah sebuah pulau yang cukup luas sehingga harus dibagi menjadi empat kabupaten. Di ujung barat terdapat Bangkalan yang berbatasan langsung dengan Surabaya. Kabupaten ini sekaligus menjadi pintu masuk ke Pulau Madura. Beranjak ke arah timur ada Sampang dan Pamekasan, lalu di ujung pulau ada Sumenep. Di zaman dulu, Raden Wijaya menyelamatkan diri dengan mengungsi ke Sumenep sebelum ia mendirikan Majapahit.

Butuh waktu empat jam perjalanan darat dari Bangkalan menuju Sumenep. Kabupaten Sumenep sendiri berpusat di sebuah kota kecil dengan nama yang sama. Saking kecilnya kota ini, saya tak melihat ada angkot berseliweran sama sekali. Bagi beberapa pelancong, pesona bawah laut Pulau Kangean atau keindahan Pantai Lombang adalah sedikit alasan untuk mengunjungi kota ini.

Keraton Sumenep

Keraton Sumenep

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan kesempatan mengunjungi kota kecil ini untuk yang kedua kalinya. Tujuan awal adalah bertemu dengan seorang teman blogger yang kebetulan sedang mengikuti acara Potret Mahakarya yang diadakan Dji Sam Soe. Selain mengobrol ngalor-ngidul, malam itu saya dengan takjub menyaksikan sajian Tari Topeng Madura di salah satu desa yang cukup terpencil di pelosok Sumenep. Konon tarian ini sudah dipentaskan selama ratusan tahun. Topeng-topeng yang digunakan pun merupakan warisan turun-temurun. Pementasan diadakan secara rutin setiap tahun sebagai hiburan untuk masyarakat di desa.

Keesokan harinya saya mengunjungi Desa Aeng Tongtong. Orang Madura mungkin tak banyak yang tahu keberadaan desa ini, namun namanya sudah tersohor hingga ke manca negara sebagai pusat pembuatan keris. Di desa ini hampir semua anak laki-laki mempunyai kemampuan untuk mengubah besi biasa menjadi keris dengan lekukan yang indah.

Keris dari Desa Aeng Tongtong

Keris dari Desa Aeng Tongtong

Siang harinya, ditemani rintik hujan saya melipir cukup jauh ke arah Pantai Lombang. Namun bukan hendak bermain di pantai. Saya berniat mengunjungi sebuah desa di Kecamatan Batang-batang. Desa Legung namanya, letaknya yang dekat dengan pantai membuat masyarakat di desa ini memanfaatkan pasir sebagai kasur tidur. Loh? Kalau kamu terkejut, saya juga sama terkejutnya.

Hujan yang terusan-terusan mengguyur Sumenep siang itu memaksa saya cepat-cepat mengangkat kaki dari Desa Legung yang unik itu. Di tengah kota, ada Keraton Sumenep yang kini sudah berubah menjadi museum dan dibuka untuk umum. Dulunya keraton ini digunakan para raja yang memerintah di Madura.

Pintu di Keraton Sumenep

Pintu di Keraton Sumenep

Tak jauh dari istana yang memiliki nama asli Keraton Potre Koneng ini terdapat Masjid Agung Sumenep. Masjid ini tercatat sebagai satu dari sepuluh masjid tertua di Indonesia. Coba perhatikan saja pintu gerbangnya yang unik dan megah ini.

Gerbang Masjid Agung Sumenep

Gerbang Masjid Agung Sumenep

Sebelum pulang, saya mengunjungi sebuah kompleks pemakaman para raja dan kerabatnya. Makam ini terletak di sebuah bukit yang cukup tinggi sesuai dengan namanya Asta Tinggi. Konon Pangeran Diponegoro dimakamkan di kompleks ini.

Asta Tinggi

Asta Tinggi

Madura memang tak seindah Pulau Bali, mungkin tak ada pelancong yang akan memasukkannya sebagai tujuan wisata favorit. Namun pulau ini sesungguhnya juga menyimpan berbagai potensi wisata yang tak kalah menariknya. Terutama untuk mereka yang tidak menyukai sesuatu yang terlalu mainstream. Yuk berkunjung ke Madura 🙂

About The Author "rotyyu"

Komentar Facebook:

13 thoughts on “Sumenep, Pesona Madura Di Ujung Timur Pulau

  1. Sebenarnya kalau Madura dikelola dengan baik dan banyak publikasi serta dukungan dari pemerintah, maka gak menutup kemungkinan Madura akan seperti pulau-pulau indah lainnya.

    • Indah Juli: Akhirnya dapat komen juga dari seleblog :). Rencananya sih nanti nulis lagi lebih detail tentang tempat-tempat yg sudah saya list di sini.

    • Febry Fawzi: Nanti kalau ada waktu, mari mampir ke Madura mas. Jangan lupa kabar-kabari tapi ya. Madura memang unik dan menarik untuk dikunjungi, terutama utk mereka yg udah bosan dng wisata yg mainstream 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi