Tak Ada Keraton Yogyakarta, Pinggirannya Pun Jadi

“Keratonnya sudah tutup dek!” seru salah satu tukang becak yang sore itu mangkal di depan pintu masuk Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. “Kalau mau, ayo saya antarkan keliling tempat-tempat yang ada di seputaran keraton,” lanjut bapak itu. Tempat-tempat yang dia maksud adalah Museum Kereta Yogyakarta, Alun-alun Kidul, Taman Sari, dan beberapa tempat yang ada di sekitar keraton yang masih memungkinkan untuk dikunjungi meskipun keraton sudah tutup. Namun saya tak menghiraukan tawaran si bapak. Sudah menjadi rahasia umum, tukang becak di sini ujung-ujungnya akan membawa pengunjung ke toko oleh-oleh yang kemungkinan besar sudah bekerja sama dengannya. Lagi pula saya selalu menikmati berkeliling dengan jalan kaki.

Saya mencoba masuk ke bagian dalam yang tepat berada di depan pintu gerbang keraton. Pintu besar itu memang sudah tertutup rapat. Di salah satu pojok bangunan, saya melihat beberapa abdi dalem bersiap-siap hendak pulang. Mereka mengenakan seragam keraton lengkap dengan penutup kepala Blangkon. Klasik, pikirku. Sejujurnya saja, seumur-umur saya belum pernah melihat abdi dalem keraton dengan seragam lengkap sedekat itu. Apalagi melihat Sri Sultan dengan pakaian kebesarannya. Tak sekalipun.

Pintu gerbang keraton

Pintu gerbang keraton tertutup rapat

Lambang Kesultanan Yogyakarta

Lambang Kesultanan Yogyakarta di pintu masuk

Saat saya dan teman-teman sibuk berfoto narsis, seorang lelaki tua menawarkan diri untuk menjadi penunjuk jalan. Ia berbicara dalam bahasa Jawa Kromo, terdengar sangat ramah sekali di telinga. Lemah lembut mendayu-dayu. Untungya saya datang bersama teman berdarah Jawa asli yang mengerti dengan baik bahasa Jawa tingkat lanjut itu :). Ketika dia tahu salah satu anggota rombongan kami datang dari Medan, ia pun sesekali menggunakan bahasa Indonesia.

Bapak tua itu tampaknya sangat paham seluk-beluk lingkungan di sekitar Keraton Yogyakarta. Ia membawa kami berkeliling melewati gang-gang sempit. Selama itu pula ia tak berhenti bercerita. Tentang keraton, tentang lokasi-lokasi menarik di pinggiran keraton, tentang tukang becak yang suka usil dengan pelanggannya, dll.

Tanpa terasa kami akhirnya tiba di Alun-alun Kidul. Mereka yang sudah pernah dari Jogja pasti tahu di tempat ini terdapat dua pohon beringin besar di tengah lapangan yang cukup besar. Sebenarnya tak ada yang istimewa di sini. Namun titik ini merupakan salah satu tempat yang pasti dikunjungi para pelancong. Konon siapapun yang dapat berjalan lurus melewati tengah dua pohon beringin itu maka permintaannya akan terkabul. Tapi ada syaratnya, mata harus tertutup. Kelihatannya gampang tapi tak sedikit yang akhirnya melipir entah ke mana.

Alun-alun Kidul

Alun-alun Kidul dengan dua pohon beringin

Para pengunjung Alun-alun Kidul

Para pengunjung di tengah dua pohon beringin

Dari Alun-alun Kidul, bapak tua itu membawa rombongan saya melanjutkan perjalanan menuju salah satu tempat yang cukup menarik perhatian para pengunjung keraton. Namanya Taman Sari. Tempat ini dulunya adalah kompleks pemandian istri dan para selir sultan. Menurut cerita bapak tua itu, sultan akan berdiri di salah satu tempat di Taman Sari lalu melemparkan bunga untuk menentukan siapa yang akan mendapatkan giliran tidur bersamanya. Ia juga sempat menjelaskan makna beberapa simbol yang terpahat di bangunan-bangunan di kompleks Taman Sari. Salah satunya menggambarkan toleransi antarumat beragama di awal berdirinya Kesultanan Yogyakarta.

Taman Sari

Salah satu kolam di Taman Sari

Sayangnya sore itu saya tak bisa masuk karena kompleks ini sudah ditutup. Saya akhirnya mengikuti beberapa pengunjung di sana, memanjat tembok di belakang rumah seorang penduduk. Ternyata cukup ramai juga di atas sana. Saya harus melangkah dengan hati-hati ketika berpindah tempat dan berpapasan dengan pengunjung lain. Puas mengambil foto, saya langsung turun dari atas tembok.

Pintu masuk Taman Sari

Salah satu pintu masuk Taman Sari

Menjelang akhir perjalanan menikmati pinggiran keraton ini saya sempat melewati sebuah terowongan yang cukup panjang. Entah digunakan untuk apa. Bisa jadi bagian dari sebuah sistem pertahanan. Namun bisa pula hanya penghubung dari satu bangunan ke bangunan lainnya di dalam keraton. Saya tak dapat mengkonfirmasi karena bapak tua yang jadi pemandu sore itu sudah pulang. Salah seorang teman meminta bapak tua itu meninggalkan kami setelah meyakinkan bahwa kami sudah bisa mengambil alih dari sini. Tak lupa teman saya itu memberikan sedikit uang lelah untuknya.

Tak jauh dari ujung terowongan ini juga terdapat sebuah reruntuhan bangunan yang oleh polesan sinar matahari sore yang masuk melalui jendela tanpa daun tampak semakin eksotis. Pulau Cemeti Taman Sari, begitu nama yang tertulis di sebuah plang cukup besar di salah satu sisi bangunan. Saya sempat berhenti cukup lama di bangunan ini. Saya berkeliling dari satu ujung ke ujung lainnya. Di salah satu ujung beberapa turis bule sedang menunggu matahari terbenam di ufuk barat. Di ujung lainnya ada sebuah sesi pemotretan fotografi model. Di dalamnya sendiri tak kalah seru, beberapa pasangan muda-mudi berpose dan berfoto narsis.

Terowongan

Terowongan

Reruntuhan

Reruntuhan Pulau Cemeti Taman Sari

Tampak dari jauh

Pulau Cemeti Taman Sari tampak dari jauh

Walaupun di kunjungan kali ini saya belum berkesempatan memasuki Keraton Yogyakarta, namun saya merasa cukup puas  berkeliling bagian-bagian pinggiran yang mungkin dulu menjadi bagian tak terpisahkan dengan keraton. Seperti pepatah bilang tak ada rotan akar pun jadi, tak ada keraton pinggirannya pun jadi :D.

About The Author "rotyyu"

Komentar Facebook:

25 thoughts on “Tak Ada Keraton Yogyakarta, Pinggirannya Pun Jadi

  1. Dan gw selalu merindu suasana jogja kayak lagu nya Kla Project, banyak kearifan lokal yg bikin gw jatuh cinta. Meskipun gw ngak perna jatuh cinta akan bangunan keraton, taman sari dll tp masyarakat nya bikin gw makjleb SUKAAAA 🙂

  2. Jogja sekarang sudah padat mas, banyak bangunan baru, mall, hotel dan apartemen. Julukan baru yang saya dengar jogja kota seribu mall.

  3. jogjaku 😀 , kalo jogja kota sekarang memang semakin rame, tapi jogja lereng merapi tetep berhati nyaman 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi