Bukti Keistimewaan Yogyakarta di Museum Benteng Vredeburg

Saya harus berjalan kaki dari Pasar Beringharjo lantaran parkir di dekat Benteng Vredeburg pagi itu sudah cukup penuh. Jaraknya memang tak terlalu jauh, apalagi hari itu saya tak sendirian. Saya bersama lima orang teman berniat mengelilingi Kota Yogyakarta seharian penuh sebelum kembali ke Surabaya. Tujuan pertama kami pagi itu adalah Museum Benteng Vredeburg. Menurut salah seorang teman yang sudah tinggal cukup lama di Jogja, saya harus mengunjungi benteng ini kalau mauΒ tahu lebih banyak tentang keistmewaan Yogyakarta dalam sejarah perjuangan Indonesia.

Bagian dalam Benteng Vredeburg

Bagian dalam Benteng Vredeburg

Masa penjajahan Belanda…

Lima tahun setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti, Kesultanan Yogyakarta dibawah kepemimpinan Pangeran Mangkubumi yang kelak menjadi Sultan Hamengkubuwono I berkembang sangat pesat. Pemerintahan Belanda yang kala itu berkuasa di Pulau Jawa lewat perpanjangan tangan VOC mulai gusar melihat kemajuan itu. Niat awal mereka campur tangan dalam perseteruan Susuhunan Pakubuwono III dengan Pangeran Mangkubumi yang melahirkan Perjanjian Giyanti adalah memecah belah kerajaan-kerajaan di Jawa menjadi lebih kecil agar mudah ditaklukkan.

Belanda tentu saja tak rela jika kelak kesultanan baru itu justru menjadi musuh yang menggulingkan kekuasaannya. Untuk itu diaturlah satu siasat agar VOC dapat mengendalikan keadaan jika suatu saat Kesultanan Yogyakarta mengadakan perlawanan. Atas perintah Gubernur Nicolas Hartingh, pembangunan Benteng Vredeburg pun dimulai.

Di awal masa berdirinya, benteng yang terletak di depan Gedung Agung ini sebenarnya diberi nama Rustenburg yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Benteng Peristirahatan. Pihak VOC sengaja membangunnya tak jauh dari keraton, jaraknya hanya satu tembakan meriam saja. Sri Sultan yang mengetahui keadaan itu sempat berusaha memperlambat pembangunan benteng dengan menghambat suplai bahan bangunan.

Suasana di dalam benteng

Suasana di dalam benteng

Masa kini…

Sesaat setelah membayar tiket masuk seharga Rp 2K di loket, saya pun memasuki Benteng Vredeburg yang kini sudah berubah nama menjadi Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Suasana di dalamnya tampak cukup asri. Hijaunya pepohonan mendominasi halaman utamanya. Tak jauh dari pintu masuk tampak patung Panglima Sudirman dan Jendral Oerip Soemohardjo berdiri gagah. Di belakangnya tedapat sepasang meriam berhadap-hadapan seakan siap hendak saling serang.

Anak muda Jogja tampaknya cukup senang datang ke museum ini. Di halaman utama terlihat beberapa kelompok sedang sibuk melakukan berbagai hal. Ada sekelompok anak SMA yang sepertinya sedang menyelesaikan tugas sejarah mereka. Di sudut lain terlihat sekelompok mahasiswa melakukan syuting dengan sebuah kamera DSLR. Ada juga kelompok lain yang cukup mencolok dengan kehadiran beberapa model cantik. Mereka ini kemungkinan besar adalah komunitas fotografi.

Saya memutuskan untuk memulai dari ruangan audio-visual. Letaknya memang paling dekat dengan pintu masuk, tepat di sebelah kiri saat pengunjung memasuki museum. Penjaganya dengan cekatan memutarkan satu film dokumenter pendek tentang perjuangan kemerdekaan di Yogyakarta hingga sejarah berdirinya Benteng Vredeburg. Informasinya cukup lengkap namun sayang tak banyak yang berminat memasukinya. Pagi itu hanya ada kami berenam saja menikmati suasana gelap di ruangan yang cukup luas dengan kursi yang cukup empuk. Saya serasa berada di bioskop.

Perjalanan saya lanjutkan ke ruangan-ruangan lain yang berisi diorama perjuangan rakyat Jogjakarta dari masa perang sebelum kemerdekaan, pendudukan Jepang, masa kemerdekaan, hingga perang setelah kemerdekaan. Terdapat setidaknya empat ruangan diorama di museum ini. Pembagiannya didasarkan pada masa perjuangan bangsa Indonesia. Di ruangan pertama tedapat diorama dari masa Perang Diponegoro hinga pendudukan Jepang. Di ruangan ke-2 berisi diorama dari proklamasi kemerdekaan hingga Agresi Militer Belanda I. Di ruangan ke-3 terdapat diorama yang menggambarkan adegan sejarah dari masa penandatanganan Perjanjian Renville hingga pengakuan kedaulatan RIS di tahun 1949. Sedangkan di ruangan terakhir ditampilkan diorama terbentuknya NKRI dari tahun 1950 hingga 1974.

Selain berbagai diorama yang menggambarkan adegan-adegan bersejarah, di dalam museum ini juga terdapat bukti-bukti sejarah lainnya seperti foto-foto, tanda keanggotaan pasukan pelajar, mata uang dari masa penjajahan, replika seragam pasukan tentara, replika pakaian anggota PMI, hingga toga yang digunakan pada wisuda UGM di awal masa berdirinya.

Beberapa foto yang cukup menarik perhatian saya adalah serangkaian kegiatan TNI di awal pembentukannya. Walaupun baru dibentuk, TNI yang waktu itu dipimpin Panglima Besar Sudirman dengan sigap mengawal kemerdekaan NKRI. Di beberapa foto tampak Pak Dirman sedang memimpin apel pasukan. Beliau tampak sangat gagah.

Kelar menyaksikan diorama di empat ruangan berbeda, saya melanjutkan mengelilingi benteng di bagian temboknya. Dari sini kita dapat melihat bagian luar benteng dengan mudah. Dahulu kala di lokasi ini ditempatkan para pasukan penjaga yang selalu siap siaga menghadapi setiap pergerakan musuh. Empat sudutnya lebih luas karena digunakan sebagai bastion yang dihuni meriam siap tembak. Kini tak ada meriam lagi di sana, namun pengunjung masih dapat menyaksikan beberapa bangunan yang digunakan untuk meletakkan meriam.

Benteng Vredeburg sempat beberapa kali mengalami perpindahan kepemilikan. Dari awal berdirinya hingga masa pendudukan Jepang, benteng ini dikuasai oleh VOC. Tahun 1942 hingga 1945 Belanda yang kalah perang terpaksa menyerahkannya ke pihak Jepang. Sesaat setelah proklamasi, benteng ini digunakan oleh Tentara Keamanan Rakyat hingga Belanda merebutnya melalui Agresi Militer Belanda II. Namun tahun 1949 benteng kembali dikuasai oleh NKRI. Selama itu pula tanah di mana benteng ini berdiri selalu berada dibawah kekuasaan Kesultanan Yogyakarta.

Mata uang di masa pendudukan Jepang

Mata uang di masa pendudukan Jepang

Di bawah penguasa NKRI pun, Benteng Vredeburg sempat beberapa kali beralih fungsi. Peresmian sebagai museum sendiri baru dilakukan pada tahun 1984 atas instruksi dari Mendikbud Prof. Dr. Nugroho Notosusanto dengan persetujuan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Sebelumnya benteng ini sempat digunakan sebagai Pusat Pendidikan dan Latihan Dodiklatpur POLRI, markas Garnizun 072 serta TNI Batalyon Infantri 403, dan Pusat Informasi dan Pengembangan Budaya Nusantara.

Di akhir kunjungan saya mengamini apa yang dikatakan oleh seorang teman. Yogyakarta itu memang sudah istimewa dari dulu. Bukan hanya karena Yogyakarta sebagai kota budaya atau kota pelajar namun peran serta Kesultanan Yogyakarta dan rakyatnya dalam perjuangan kemerdekaan NKRI. Kalau mau membuktikannya, silakan datang sendiri ke Museum Benteng Vredeburg :).

About The Author "rotyyu"

Komentar Facebook:

27 thoughts on “Bukti Keistimewaan Yogyakarta di Museum Benteng Vredeburg

  1. Eh aku bolak balik jogja dan beberapa kali nongkrong di depan benteng nya tp ngak perna tertarik untuk masuk ke dalam nya ihik ihik. Maluuuu jadi manusia yg lupa akan sejarah πŸ™

  2. Benteng Vredeburg ini unik karena jarang benteng belanda yang berada di tengah-tengah kota gini, biasanya di deket laut. Tapi kayaknya disesuaikan dengan karakteristik Jogja waktu itu. Enaknya benteng ini terletak di pusat kota, berada di tengah-tengah Malioboro dan Keraton Jogja jadi ya pasti semua orang melewatinya, cuma ga semuanya masuk sih. Kayak Mas Cumi tuh..

    • Giewahyudi: Betul, biasanya kan benteng Belanda itu utk mengawasi musuh yg datang dari laut tapi yg ini khusus mengawasi kesultanan yg waktu itu semakin berkembang pesat.

  3. Ah tanggal 1 desember kemarin baru kesana, cukup kagum dengan diorama yg ditata apik begitu, tiketnya pun murah cuma 2rb, dan entah kenapa saya lupa motret2 hahaha

    • Alid Abdul: Sejauh ini, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta merupakan salah satu museum terbaik yg pernah saya kunjungi. Harusnya motret tuh karena seingat saya ga ada larangan motret kok.

Leave a Reply to Caderabdulpacker.com Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi