Candi Mendut Bukan Saksi Bisu Kisah Roro Mendut

Pernah mendengar atau membaca kisah kasih tak sampai Roro Mendut dengan Pronocitro? Tragedi cinta itu sudah bagaikan legenda yang hidup di Pulau Jawa. Sebagian orang mungkin akan membandingkannya dengan kisah Romeo dan Juliet mahakarya William Shakespeare. Lalu apa hubungannya dengan Candi Mendut? Tentu saja tidak ada. Mungkin suatu kebetulan keduanya menggunakan nama Mendut, satunya adalah wanita cantik yang terkenal kemolekannya sedangkan satunya lagi adalah sebuah bangunan candi yang anggun. Kebetulan pula letaknya saling berdekatan, kita masih dapat menyaksikan makam Roro Mendut di Sleman yang hanya berjarak 2 jam perjalanan dari Candi Mendut yang ada di Magelang.

Candi Mendut terletak tidak jauh dari Candi Borobudur yang termasyhur itu, banyak yang bilang jaraknya hanya sekitar 3 km. Jika datang dari kota Yogyakarta, kita dapat melihat bangunan anggun nan gagah yang disusun oleh batu-batu alam menjulang tinggi di kanan jalan sesaat sebelum tiba di Candi Borobudur. Ukurannya tak terlalu besar. Bentuk dasarnya adalah persegi dengan puncak atap dihiasi oleh stupa-stupa kecil. Di sekelilingnya terdapat pagar yang terbuat dari besi untuk mencegah orang masuk tanpa izin. Tampak pula lapak-lapak pedagang di salah satu sudut, tepat di bawah pohon beringin dengan akarnya yang terjuntai.

Pengunjung Candi Mendut tak seramai Candi Borobudur, pada hal tiket masuknya hanya Rp 3.300. Angka yang cukup aneh bagiku, sempat berpikir mengapa tak digenapkan saja ke angka Rp. 3.500? Tapi biarlah, mungkin penjaga loketnya sudah menyediakan uang receh yang cukup banyak :).

Candi Mendut

Candit Mendut tampak dari pintu masuk

Seperti kebanyakan candi lainnya di Jawa Tengah maupun Yogyakarta, hampir seluruh dinding Candi Mendut dihiasi oleh pahatan relief. Uniknya relief-relief di dinding terluar candi ini merupakan dongeng berupa fabel (cerita dengan tokoh hewan) untuk anak kecil. Kita dapat menaiki candi melewati tangga masuk. Dinding pada lantai ini pun masih dihiasi dengan pahatan relief yang menggambarkan Buddha.

Terdapat juga sebuah ruangan kecil di dalam Candi Mendut. Ruangan ini hingga kini masih digunakan oleh umat Buddha untuk sembahyang. Saat saya mengunjungi candi ini tampak beberapa biksu dan umat yang berasal dari luar negeri sedang berdoa di dalamnya. Saya harus menunggu hingga mereka selesai beribadah agar dapat mengabadikan tiga arca utama di dalamnya.

Tiga arca utama di Candi Mendut ini adalah Dhyani Buddha Wairocana yang terletak di tengah. Di sebelah kirinya terdapat arca Awalokiteswara (Padmapani) dan di sisi kanannya terdapat arca Wajrapani. Suasana di dalamnya cukup gelap, saya terpaksa menaikkan angka ISO di kamera ke 1600 untuk mendapatkan foto yang lebih tajam. Cahaya dari flash mungkin akan sangat membantu, sayangnya saya hanya punya flash built-in.

Dari sisi sejarah, Candi Mendut oleh para ahli diduga dibangun oleh Raja Indra dari Dinasti Syailendra. Tahun pendiriannya diperkirakan adalah 824 Masehi. Perkiraan ini didasarkan pada prasasti Karangtengah yang berisi berita tentang pendirian bangunan suci bernama Wenuwana yang berarti hutan bambu.

Nah kalau sudah terlanjur sampai di Magelang jangan hanya ke Candi Borobudur saja, sempatkan juga untuk menengok Candi Mendut ini. Waktu yang dibutuhkan untuk mengelilinginya juga tidak lama kok. Apalagi kita sudah jauh-jauh datang ke Magelang, tak ada ruginya menikmati sebanyak mungkin tempat wisata yang dapat dijangkau.

About The Author "rotyyu"

Komentar Facebook:

9 thoughts on “Candi Mendut Bukan Saksi Bisu Kisah Roro Mendut

  1. Dan gw ngak perna singgah mampir kesini setiap ke borobudur, inget cerita dulu zaman SD kala di ceritain ttg roro mendut yg jualan rokok diacara aduan ayam dan ternyata ngak ada kaitan nya sama candi mendut ini yaaa.
    Selama ini gw pikir ada pertalian nya 🙂

    • Edi Psw: Kondisi sekarang menurutku masih cukup apik. Kondisinya sangat terawat dan terpelihara. Semoga akan seperti ini selanjutnya.

  2. Kemarin mampir ke situ. Waktu sudah magrib. Begitu naik. Ada patung Budha besar dan 2 arca lainnya. Gak ngerti siapa. Ada dupanya dan lampu juga. Masih dipakai sembahyang.bdengan bau dupa dan udah magrib juga. Jadi agak serem. Lampunya kuning pula. G berani foto didalamnya. Sesudah mutarbsekali. Langsung keluar. Agak merinding soalnya.

Leave a Reply to Edi Psw Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi