Candi-candi Berserakan di Jalur Jolotundo G. Penanggungan

Pendakian itu tak melulu soal menggapai puncak. Pendakian itu tak melulu masalah ketinggian. Pendakian itu seringnya adalah soal mencari makna. Bahkan kadang-kadang pendakian bisa berubah menjadi ekspedisi arkeologi bersejarah. Hal seperti itulah yang akan terjadi tatkala kita mendaki Gunung Penanggungan. Di masa lalu gunung yang lebih dikenal dengan nama Pawitra ini ternyata merupakan pusat kegiatan keagamaan. Bukti-buktinya dapat dilihat hingga saat ini. Puluhan candi, pertirtaan, dan makam tersebar di tubuh gunung yang konon sering dikunjungi Hayam Wuruk ini.

Menurut beberapa penelitian yang telah diadakan untuk memetakan candi-candi di Gunung Penanggungan, terdapat setidaknya 80 candi yang sudah ditemukan. Jumlah ini dapat bertambah jika suatu saat ada eksplorasi lebih lanjut. Sebagian besar candi tersebut letaknya cukup sulit untuk dicapai. Untuk mengunjunginya mungkin butuh jasa seorang pemandu yang sudah hafal letak dan jalan menuju candi-candi. Namun ada beberapa yang keberadaannya mudah ditemukan para pendaki. Lima di antaranya terletak di jalur pendakian lewat Jolotundo.

Candi Shinta

Apabila memilih untuk turun lewat jalur Jolotundo seperti yang kami lakukan maka setelah beberapa jam perjalanan dari puncak para pendaki akan bertemu dengan Candi Shinta. Bentuknya persegi empat berupa pundan berundak dengan tiga lantai. Namun jika diperhatikan lebih seksama, hanya lantai dua dan tiga saja yang merupakan bangunan asli. Hal itu tampak dari batu-batu penyusun lantai dasar yang tidak lagi berbentuk balok yang dibentuk dari batuan andesit.

Candi Shinta

Candi Shinta tampak depan

 

Puncak Candi Shinta

Bagian puncak Candi Shinta

Selain candi, di lokasi ini tedapat sebuah bangunan yang kelihatan seperti makam dan sebuah bangunan lagi yang tampak seperti meja untuk sesajen. Keadaan sekitar menampakkan bahwa candi ini sudah mendapatkan perawatan yang cukup memadai. Halaman sekitar yang ditanami bunga-bunga tampak bersih dan asri.

Bangunan serupa meja

Bangunan serupa meja di Candi Shinta

Candi Gentong

Tak begitu jauh dari Candi Shinta terdapat satu kompleks yang sebenarnya tidak layak disebut candi karena hanya berupa gentong dan sebuah bangunan serupa meja seperti yang terdapat di candi sebelumnya. Mungkin keberadaan gentong inilah yang menyebabkan nama Candi Gentong melekat pada kompleks ini.

Candi Gentong

Candi Gentong

Candi Pura

Canti ke-3 yang akan kita temui jika datang dari puncak bernama Candi Pura. Letaknya tidak jauh dari Candi Gentong. Saat memperhatikan bentuknya saat ini, yang terlintas dalam pikiran kebanyakan orang mungkin adalah sebuah makam. Namun bisa saja hal itu salah karena bentuk candi sebenarnya di masa lalu bisa jadi berbeda.

Candi Pura

Candi Pura

 

Benda purbakala

Benda purbakala di Candi Pura

Candi Putri

Di antara semua candi yang terdapat di jalur Jolotundo, bisa jadi Candi Putri merupakan candi dengan bentuk paling sempurna dan lengkap. Setidaknya itu yang tertangkap oleh mata kepalaku saat tiba di lokasi ini. Bangunannya tampak seperti menempel ke punggung gunung sehingga yang tampak hanya bagian depannya saja.

Candi Putri

Candi Putri

Candi Bayi

Di deretan terakhir atau deretan pertama dalam perjalanan naik ke puncak terdapat Candi Bayi. Kondisinya cukup memprihatinkan. Bentuknya berupa persegi empat yang tampak disusun asal-asalan. Bisa jadi karena tidak semua bagian asli candi yang ditemukan pada saat penggalian.

Candi Bayi

Candi Bayi tampak dari atas

 

Bagian samping Candi Bayi

Candi Bayi tampak dari samping

Nama Jolotundo sendiri sebenarnya digunakan lantaran di pos perizinan jalur ini terdapat sebuah pertirtaan dengan nama yang sama. Tempat pemandian ini cukup ramai dikunjungi wisatawan yang berasal dari daerah Jawa Timur. Airnya konon dipercaya dapat mendatangkan rejeki dan umur panjang bagi siapa saja yang mandi menggunakannya. Sayangnya kami tak sempat mampir ke dalam pertirtaan peninggalan Raja Airlangga ini karena supir yang dipesan sehari sebelumnya sudah menunggu di parkiran.

About The Author "rotyyu"

Komentar Facebook:

26 thoughts on “Candi-candi Berserakan di Jalur Jolotundo G. Penanggungan

    • Indobrad: Kalau maksudnya mendaki adalah sampai ke puncak bisa. Lewat Jolotundo saja, nanti tetap harus hiking sekitar sejam untuk sampai ke Candi Shinta yg merupakan candi tertinggi dari Jolotundo.

  1. Candinya banyak banget ya di Gunung Penanggungan ini. Sama kayak waktu saya ke Candi Boko juga kayak gitu, ada beberapa candi yang masih berserakan.

    Eh itu Candi Bayi maksudnya mungkin candi yang kecil gitu kali ya..

    • Giewahyudi: Ada 80 yang sudah ditemukan, baru-baru ini ada tambahan 1 lagi. Jadi total sekarang 81 candi.

      Mungkin ya, karena bentuknya memang kecil tapi itu juga bentuk sekarang. Karena bisa jadi bentuk aslinya berbeda kan.

    • Tongkonanku: Kalau di G. Penanggungan sepertinya kecil kemungkinan ada candi sebesar Borobudur atau Prambanan karena lokasinya tidak mendukung.

    • Adi Mangunkusumo: Kebanyakan merupakan peninggalan Majapahit tapi ada juga yg berasal dari masa Kerajaan Kadiri. Kalau dari Jakarta naik kereta aja sampe Surabaya terus ke Terminal Bungurasih. Dari sana ambil bus jurusan Malang, nanti minta diturunkan di Terminal Pandaan. Di sana tinggal nyari angkot untuk nganterin ke Pos Tamiajeng, bilang aja ke Kampus Ubaya.

  2. betapa kayanya negara kita ini, Indonesia dengan beragam budaya leluhur, bangga dengan Indonesia. asal gak dirusak oleh manusia yang fanatisme berlebih aja

  3. Mau ke Jolotundo/Jalatunda ada jalur lebih cepat dari Jakarta, naik kereta api yang turun di stasiun Mojokerto, dari sana carter ojeg ke lokasi bisa ditempuh sekitar 1 jam aja lewat jalur Mojosari yang arah ke Ngoro, sebelum Ngoro ada papan petunjuk PPLH Seloliman, ikuti petunjuk itu

    • mas bisa jelasin jalur menuju jolotundo dari surabaya, yg jelas ya mas, cz aku ada rencana mau ndaki ksana tpi gatau jalur menuju ksna.. makasih.. tolong di bls 🙂

      • Chairizal: Dari Surabaya naik bis jurusan Malang dari Terminal Bungurasih. Terus minta diturunkan di Terminal Pandaan, dari sini tinggal nyari angkutan desa aja yg mau nganterin ke Jolo Tundo. Biasanya kita harus nyewa karena memang ga ada rute ke sana. Bisa juga naik lewat Tamiajeng terus turun lewat Jolotundo, tapi jangan lupa janjian sama supir angkutnya biar dijemput pas turun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi