Catatan Pendakian Gunung Penanggungan 1.653 MDPL

Jumat, 15/11/2013 Pukul 21.30 WIB

“Wow!” Begitulah ekspresi yang berhasil aku terjemahkan menjadi kata-kata demi melihat keindahan pemandangan di depan mata saat tiba di puncak Gunung Penanggungan. Nun jauh di bawah sana terhampar jutaan bola lampu yang mengeluarkan sinar berwarna kekuningan. Berkilauan. Kerlap-kerlip. Terlihat seperti sekelompok kunang-kunang yang sedang berpesta merayakan datangnya malam. Bermandikan cahaya. Aku segera meletakkan tas carrier berkapasitas 75L yang sedari tadi menggelantung di pundakku. Lalu aku membentangkan tangan, menutup mata, meresapi segala rasa yang dapat aku rasakan. Sementara itu angin berhembus dengan kencangnya, menularkan rasa dingin yang menusuk hingga tulang. Aku tak lagi merasakan lelah atau pun pegal, semuanya sudah menguap bersama angin dan keringat yang bercucuran di sekujur tubuh.

Samudera di atas awan

Samudera di atas awan G. Penanggungan

7 jam sebelumnya…

Ternyata perjalanan dari Pulau Madura hingga Pasuruan memakan waktu cukup lama juga. Walaupun sebenarnya waktu itu lebih banyak dihabiskan untuk menunggu kapal penyebrangan atau bus dari Pelabuhan Perak menuju Terminal Bungurasih. Bahkan target untuk mengejar waktu sholat Jumat di terminal utama Kota Surabaya itu tak terpenuhi. Teman-teman serombonganku akhirnya menunaikan ibadahnya di masjid pelabuhan. Dan seperti biasa aku menunggu dengan setia di salah satu sudut masjid.

Kami berlima akhirnya tiba di pos perizinan di Desa Tamiajeng setelah setidaknya berganti moda transportasi sebanyak lima kali. Untungnya sudah ada jalur alternatif di Porong Sidoarjo, sehingga kemacetan tak terlalu memperlambat laju kami. Untuk mencapai pos perizinan ini, dari terminal Bungurasih kami menaiki bus jurusan Malang namun turun di Terminal Pandaan. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan angkutan desa yang harganya ditentukan dengan tawar-menawar. Supir-supir di sini sepertinya sudah terbiasa mendapatkan rezeki tambahan dari para pendaki yang hendak bertualang ke Gunung Penanggungan.

Sunrise di Penanggungan

Semburat jingga di kejauhan

5 jam sebelumnya…

Suasana pos perizinan Tamiajeng sore itu sangat sepi. Bangunan pos yang terbuat dari bambu yang seharusnya dihuni pengelola pendataan pendaki tampak kosong melompong. Tak terlihat juga batang hidung pendaki lain yang hendak menanjak. Kami mampir ke sebuah warung yang bangunannya juga sepenuhnya terbuat dari bambu dengan lantai tanah. Warung itu milik Ibu Indah yang sudah akrab dengan para pendaki yang sering mampir sebelum melanjutkan pendakian. Niat kami hendak mengisi perut yang keroncongan agak terkendala karena Bu Indah ternyata tak jualan sore itu. “Sepi, Mas!” begitu alasannya.

Namun si ibu dengan baik hati meminjamkan sepeda motornya untuk mencari nasi di warung lain. Tak butuh waktu lama nasi pecal dengan lauk ayam itu tiba di tangan kami dan segera berpindah ke perut. Rasanya sangat nikmat makan dengan suasana alam pegunungan yang sejuk. Bagi pendaki yang tidak membawa perbekalan air yang mencukupi, pos ini juga merupakan tempat terakhir untuk mengisi jerigen atau wadah lainnya dengan air segar. Gratis!

Sesaat sebelum memulai perjalanan panjang menuju puncak Gunung Penanggungan, dua anak manusia tiba dengan sepeda motor. Sepasang ABG alias anak baru gede. Cowo dan cewe. Sejoli. Mereka berniat hendak mendaki juga. Karena tak terlalu mengerti jalur pendakian, Bu Indah berinisiatif menitipkan mereka berdua ke rombongan kami. Tentu saja kami tak akan menolaknya. Sesama pendaki adalah saudara!

Gunung Arjuna dan Welirang

Tampak Arjuna dan Welirang

Trek awal pendakian berupa jalanan lebar yang cukup datar. Jalanan yang sudah dibatui ini digunakan oleh para petani di Desa Tamiajeng sebagai akses ke ladang. Kondisinya cukup memadai untuk dilalui oleh sepeda motor maupun mobil. Lepas itu barulah kami mulai menapaki jalan tikus di antara ladang-ladang penduduk. Hujan turun tatkala hari semakin gelap. Ini tak seperti harapanku yang kebetulan hari itu tidak membawa jas hujan. Dengan terpaksa aku mengekor di belakang seorang rekan dan menggunakan ujung jasnya untuk melindungi tubuhku dari guyuran hujan. Untungnya rintik-rintik air dari langit itu tak berlangsung lama.

Namun sisa air yang membasahi Bumi malam itu menambah beratnya pendakian. Licinnya jalan setapak yang kami lalui seolah berkonspirasi dengan gelapnya malam. Mereka begitu kompak menguras energi dan semangat kami untuk segera tiba di puncak. Cahaya senter pun tak banyak membantu menerangi jalan terjal yang harus kami daki. Berkali-kali kami harus beristirahat memulihkan tenaga. Beberapa kali pula si cewe dari sejoli itu tampak sangat kelelahan. Bahkan pada satu momen, kami akhirnya harus meninggalkan mereka demi mengejar waktu sholat rekan-rekan di timku.

Puncak Gunung Penanggungan

Di Puncak Gunung Penanggungan

2 jam sebelumnya…

Kami tiba di satu tempat yang cukup datar dan luas sesaat sebelum azan sholat Isya terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Di tempat ini angin bertiup lumayan kencang. Maklum saja, lokasi yang disebut sebagai puncak bayangan itu tidak lagi ditumbuhi pepohonan. Hanya ada padang rumput dan semak belukar di sana-sini yang bergoyang dihembus angin. Ke depan, ke belakang, ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah. Rumput-rumput itu tak cukup berdaya untuk menghalau sang angin.

Di tempat ini kami beristirahat cukup lama. Selain menunggu teman-teman yang menunaikan ibadahnya, kami juga harus menunggu sejoli yang berangkat bersama dari pos perizinan tadi. Saat mereka tiba, si cewe langsung menghempaskan badannya di atas rerumputan. Salah seorang temanku menawarinya minuman energi untuk menambah tenaga. Puncak memang sudah semakin dekat namun perjalanan akan semakin berat karena medan pendakian semakin ekstrim.

Trek selanjutnya didominasi oleh batu-batuan dengan kemiringan hingga 60°. Aku terpaksa merangkak menggunakan kedua tangan di beberapa lokasi. Tak jarang pula teriakan untuk mengumpulkan tenaga keluar dari mulutku. Gunung Penanggungan memang tak setinggi Gunung Semeru namun medan menuju ke puncaknya tak kalah ekstrim. Meski begitu gunung ini tetap saja menjadi favorit bagi pendaki pemula lantaran waktu pendakiannya tak sampai sehari. Selain itu, lokasinya juga tak seberapa jauh dari pusat Kota Surabaya.

Medan pendakian G. Penanggungan

Kemiringan Gunung Penanggungan

Beberapa menit sebelumnya…

“Puncak! Yeah!” terdengar teriakan dari dua orang kawan yang sudah sampai lebih dulu di puncak. Teriakan itu seperti pecut untuk mereka yang masih tertinggal di bawah. Teriakan itu seolah memberikan suntikan semangat baru. Puncak sudah dekat! Pendakian malam ini akan segera berakhir! Kalimat-kalimat sugesti seperti itulah yang mungkin terngiang di kepala setiap kami yang mendengarkan teriakan dari puncak tadi.

Namun begitu sampai di puncak kami tidak berleha-leha. Segera setelah menikmati hembusan angin puncak yang mampu membuat tangan gemetaran hanya dalam waktu beberapa menit kami segera mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Kami tak mungkin berkemah di puncak di tengah hembusan angin yang sangat deras. Lokasi yang kami pilih terletak di atas lembah di seberang puncak Gunung Penanggungan. Tempatnya cukup nyaman karena nyaris tak ada hembusan angin.

Acara mendirikan tenda disusul dengan memasak air untuk menyeduh kopi untuk menemani makan malam bermenukan nasi pecel. Kelar urusan perut kami bersiap memasuki tenda, menghangatkan badan, beristirahat, dan mengumpulkan tenaga untuk perjalanan turun.

Gunung Semeru

Gunung Semeru nun jauh di timur

Pagi keesokan harinya…

Aku terbangun dari tidurku yang tak nyenyak. Suasana sudah cukup terang, mungkin sudah pukul 4.30 WIB. Aku segera membuka pintu tenda, mengambil kamera dari tas, lalu melangkah ke luar menikmati suasana pagi. Momen seperti ini rasanya sayang sekali jika tak diabadikan dengan kamera. Walaupun tak ada sunrise pagi itu, aku tetap melangkahkan kaki ke puncak utama Gunung Penanggungan. Dari sana akan terlihat dengan jelas Kota Pandaan dengan latar belakang Gunung Arjuna dan Gunung Welirang. Di timur jauh tampak Gunung Semeru berselimutkan awan dan kabut tebal. Jauh ke arah barat seharusnya ada Gunung Lawu. Sedangkan di depan sana terhampar luas Kota Sidoarjo dan Kota Surabaya.

Tak seperti malam sebelumnya, pagi ini puncak cukup ramai dengan kehadiran serombongan remaja pecinta alam yang sedang mengikuti diklat. Ada juga beberapa rombongan dari kampus beken di Surabaya. Bahkan tak ketinggalan sepasang orang tua lanjut usia pun ikut meramaikan suasana pagi di puncak.

Puas menikmati suasana pagi, kami segera bersiap turun. Tentu saja energi harus disi ulang dulu dengan sarapan pagi bermutu. Nasi dan sayur sup menjadi menu utama, ditambah mi instan goreng dan kopi. Semuanya terasa nikmat.

Untuk jalur turun kami memilih lewat Jolotundo. Pilihan ini bukan tanpa alasan, jalur ini terkenal dengan keberadaan beberapa candi peninggalan beberapa kerajaan Hindu-Buddha yang sempat berkuasa di wilayah Jawa Timur. Medannya juga tak terlalu ekstrim seperti rute Tamiajeng. Pilihan ini juga membuat kami berpisah dengan sejoli ABG yang memilih turun lewat Tamiajeng. Mereka juga bukan tanpa alasan, sepeda motor mereka diparkir di sana :D.

Turun Penanggungan via Jolotundo

Perjalanan turun menuju Jolotundo

Butuh waktu sekitar enam jam perjalanan agar kami sampai di Jolotundo. Lamanya waktu tempuh ini karena kami banyak beristirahat dan mampir di lima candi yang terdapat di lereng Gunung Penanggungan di sepanjang rute Jolotundo. Hanya dua dari lima candi tersebut yang masih mempunyai bentuk yang cukup utuh. Selebihnya hanya dibentuk dari susunan batu-batu andesit yang ditemukan di lokasi di mana candi berada. Salah satu candi bahkan sebenarnya tak cocok disebut candi karena hanya berupa gentong yang disebelahnya terdapat bangunan semacam meja pemujaan. Pendakian Gunung Penganggungan pun kami akhiri di Jolotundo.

About The Author "rotyyu"

Komentar Facebook:

16 thoughts on “Catatan Pendakian Gunung Penanggungan 1.653 MDPL

  1. wow perjalanan yang asik banget mas.. jadi kangen naik gunung lagi hahay sekarang udah mau punya dua anak.. lutut ini masih kuat gak yah hehe. asik tulisannya asik juga poto-potonya mantap!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi