Mendaki Semeru, Menggapai Puncak Tertinggi Pulau Jawa

Hembusan angin dingin pegunungan musim hujan merasuk hingga tulang-tulang tatkala saya tiba di Ranu Pani.  Dinginnya  cuaca di sini mampu membuat siapapun yang tak terbiasa menggigil. Memulai perjalanan menjelang malam dari Surabaya, saya dan teman-teman satu tim tiba di kaki Gunung Semeru subuh keesokan harinya. Suasana begitu hening. Tenang. Hampir tak ada suara yang terdengar. Hanya kegelapan yang ada di depan mata. Cahaya Sang Rembulan di atas sana hanya mampu menghadirkan remang-remang terhalang awan gelap.

Ranu Pani

Kami memutuskan untuk beristirahat di sini saja sebelum melanjutkan pendakian. Tubuh yang begitu letih ini butuh sedikit istirahat untuk mengumpulkan tenaga menggapai puncak tertinggi di Pulau Jawa. Lagi pula kami masih harus menunggu hingga subuh berubah menjadi terang, saat itu barulah kantor administrasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) buka untuk pendaftaran.

Saya berusaha memejamkan mata di atas ubin beralaskan matras di teras sebuah mushalla. Tubuh ini terpaksa mengkerut menahan dingin. Saya sudah mengenakan jaket paling tebal, topi kupluk, kaus kaki, dan sarung tangan. Semuanya itu tidak banyak membantu. Angin di kaki sang raksasa begitu dingin. Sangat dingin. Kacamata yang saya kenakan mulai berembun. Ada bulir-bulir air kecil mengerubuti sarung tangan yang saya gunakan. Saya masih berusaha untuk tertidur.

Pendakian Gunung Semeru

Ranu Pani pagi hari

Saya terbangun oleh deru suara motor yang melintas di depan mushalla. Ternyata pagi sudah menjelang. Namun sang mentari belum terlihat. Mungkin ia terhalang tingginya Gunung Semeru. Angin yang bertiup masih saja terasa dingin. Saya beranjak begitu mata tertuju pada Ranu Pani. Saya mulai melangkahkan kaki mendekati danau kecil di kaki Semeru ini. Airnya memang tidak terlalu jernih. Warnanya tampak kecoklatan. Kelihatannya danau ini cukup dangkal. Erosi dari kaki gunung memperparah keadaannya. Jika tidak segera ditangani, mungkin esok Ranu Pani akan jadi kenangan. Tenggelam oleh kedangkalan.

Kesibukan mulai terlihat di pos pendaftaran TNBTS. Beberapa grup pendaki sudah mengantri di depan loket yang belum juga buka. Puluhan tas carrier besar berjejalan di teras kantor kecil itu. Sekelompok pendaki lainnya duduk di depan warung-warung penjual makanan. Semuanya mengenakan pakain gunung super lengkap. Menunggu sarapan pagi. Asap mengepul dari rumah-rumah yang sekaligus menjadi warung itu. Penduduk setempat tampak bergegas menuju ladangnya masing-masing.

Penduduk lokal Gunung Semeru

Dua orang penduduk Gunung Semeru

Usai mengurusi parkir sepeda motor, kami segera mengurus perizinan pendakian. Bapak yang bertugas pagi itu cukup ramah, sekaligus sangat tegas. Semua barang bawaan kami didaftar. Segala persyaratan administrasi dikumpulkan, surat keterangan berbadan sehat, surat pernyataan bermaterai, dan uang retribusi. Urusan tetek bengek ini tidak memakan waktu lama. Prosesnya berjalan lancar, asal semua syarat lengkap.

Memulai Pendakian

Pendakian pun kami mulai setelah berdoa bersama memohon keselamatan kepada Yang Maha Esa. Langkah kaki terasa lebih bertenaga berkat tambahan energi dari sepiring Nasi Kare Ayam yang kami nikmati pagi itu. Dengan tas carrier besar di punggung, saya berjalan paling belakang. Giliran pertama menjadi sweeper. Medan panjang nan terjal sudah menanti di depan sana. Kami harus melalui lima pos sebelum sampai di Kali Mati, pos yang akan kami gunakan untuk berkemah.

Latihan endurance yang saya lakukan dua minggu sebelum pendakian ini ternyata cukup membantu. Saya memang mempersiapkan diri cukup intens untuk pendakian Gunung Semeru. Berlari atau skipping menjadi menu wajib setiap pagi. Hasilnya, tanjakan demi tanjakan saya lewati dengan mulus. Kami bahkan beberapa kali sempat menyalip grup pendaki yang berangkat lebih dulu. Namun ini baru awal, medannya masih cukup landai. Baru pemanasan.

Saya yang mulai ngos-ngosan beberapa kali berteriak “Break!” ke teman-teman di depan. Puncaknya kami harus beristirahat cukup lama di Pos 1. Medan pendakian terasa semakin berat melewati Pos 3. Ada peralihan cukup drastis di sini. Rute yang sebelumnya cukup datar, kini berubah menjadi sangat terjal. Saya dan 3 orang lainnya memutuskan untuk berhenti cukup lama di sini, sementara 2 lainnya segera melanjutkan pendakian. Di atas sana Pos 4 dan Ranu Kumbolo sudah menanti.

Ranu Kumbolo

Pendakian Gunung Semeru 001

Ranu Kumbolo di depan mata

Saya tersenyum senang setelah melalui tanjakan yang cukup menguras tenaga itu. Menjelang Pos 4 medan pendakian kembali melandai. Senyum saya semakin mengembang demi menyaksikan Ranu Kumbolo di depan mata. Tampak di kejauhan tenda warna-warni berjejer tak beraturan di tepi danau. Tergesa-gesa saya mengeluarkan kamera yang sedari tadi tersimpan rapi di tas. Jepret! Jepret! Jepret! Beberapa gambar berhasil saya abadikan.

Pendakian Gunung Semeru 002

Ranu Kumbolo dari dekat

Pendakian Gunung Semeru 003

Edelweis di tepi danau

Pendakian Gunung Semeru 004

Para pendaki di padang rumput

Pendakian Gunung Semeru 024

Tenda para pendaki

Di Ranu Kumbolo kami beristirahat cukup lama. Tempat ini memang paling pas menjadi tempat perhentian. Idealnya para pendaki mendirikan tenda dulu sebelum melanjutkan pendakian dari sini. Tubuh perlu melakukan aklimatisasi untuk menghindari acute mountain sickness atau altitude sickness. Namun demi mengejar waktu dan menghindari musim hujan yang semakin dekat, kami tidak bermalam di Ranu Kumbolo. Pendakian dilanjutkan setelah semua anggota tim lengkap.

Tanjakan Cinta

Pendakian Gunung Semeru 025

Tanjakan Cinta

Selepas Ranu Kumbolo, para pendaki Gunung Semeru akan dihadapkan dengan Tanjakan Cinta. Konon siapapun yang mampu melalui tanjakan ini tanpa melihat ke belakang sambil membayangkan nama orang yang ia cintai, maka kisahnya akan berakhir bahagia. Impian cintanya akan terpenuhi. Itulah sebabnya mengapa tanjakan yang sangat curam ini dinamai Tanjakan Cinta. Namun saya jamin, tak akan mudah menaklukkan tanjakan ini.

Oro-oro Ombo

Untungnya sehabis ngos-ngosan menggapai impian cinta di tanjakan curam, jalur pendakian kembali ramah bagi kaki. Oro-oro Ombo, demikian nama tempat ini. Tanaman Oro-oro memang tumbuh dengan suburnya di jalur paling datar selama pendakian ini. Sayangnya kami datang di penghujung musim kemarau. Bukan hijaunya tanaman yang menyambut kami, melainkan Oro-oro yang sudah meranggas berwarna kuning kecoklatan.

Pendakian Gunung Semeru 005

Oro-oro Ombo

Pendakian Gunung Semeru 006

Di pintu gerbang menuju Cemoro Kandang

Cemoro Kandang

Memasuki Cemoro Kandang hujan turun mengguyur tanah Semeru. Kami terburu-buru mengenakan jas hujan dan memasang rain cover untuk tas carrier. Kamera saya masukkan kembali ke dalam tas terbungkus plastik untuk mencegah air masuk. Medan yang harus kami lalui di Cemoro Kandang lumayan panjang. Di beberapa titik terdapat tanjakan yang cukup terjal. Jalur pendakian semakin berat karena hujan yang baru turun mengakibatkan jalan setapak yang harus dilalui menjadi licin.

Kali Mati

Akhirnya setelah pendakian yang melelahkan hampir setengah hari, 4 orang anggota tim kami tiba dengan selamat di Kali Mati sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Sisanya, 2 orang lagi menyusul hampir setengah jam kemudian. Di pos ini lah kami mendirikan tenda, beristirahat, dan tentu saja makan-makan. Yang terakhir ini penting untuk mengisi ulang energi yang habis terkuras di tanjakan-tanjakan pendakian.

Kali Mati sebenarnya bukan lah pos terakhir sebelum puncak, masih ada Arcapodo yang tepat berada di lereng Gunung Semeru. Kebanyakan pendaki memutuskan untuk berkemah di sini karena adanya sumber air yang letaknya tidak terlalu jauh. Lagi pula Kali Mati relatif lebih aman ketika Gunung Semeru dalam status waspada.

Pendakian Gunung Semeru 011

Tenda para pendaki di Kali Mati

Pendakian Gunung Semeru 015

Edelweis tumbuh subur

Pendakian Gunung Semeru 013

Narsis dulu coy

Puncak Mahameru

Walaupun jarak dari Kali Mati ke Puncak Mahameru tidak sejauh Ranu Pani ke Kali Mati, namun waktu yang dibutuhkan bisa jadi lebih lama. Medan yang harus dihadapi memang jauh lebih berat. Kemiringan menuju puncak sangat terjal. Sepanjang medan pendakian batu-batu gunung kecil dan besar bertebaran. Melangkah tiga langkah, kita akan surut satu langkah. Jika tidak hati-hati memilih pijakan, bebatuan yang jadi tempat kaki menjejak bisa jadi meluncur deras ke bawah menuju pendaki lainnya. Pada keadaan seperti itu jangan lupa untuk memperingatkan pendaki di belakang.

Di beberapa titik, saya terpaksa harus merangkak agar tidak tergelincir. Suhu dingin juga tidak berhenti menyerang. Pendaki yang terlalu lama beristirahat rentan terkena hipotermia. Sebaiknya istirahat dilakukan hanya untuk mengembalikan nafas saja. Jangan tunggu sampai tubuh mulai kehilangan panas. Dengan tetap berjalan, suhu tubuh akan tetap terjaga. Usahakan juga untuk membawa persedian air yang cukup. Membawa coklat hangat akan sangat membantu melawan dinginnya suhu menuju puncak.

Kami membutuhkan waktu hampir 6 jam untuk mencapai Puncak Mahameru. Summit attack kami mulai tengah malam sekitar pukul 00.00 WIB. Saya menjadi orang pertama dari tim yang tiba di puncak sekitar pukul 06.00 WIB. Empat teman lainnya tiba di puncak setengah jam kemudian.

Pendakian Gunung Semeru 008

Para pendaki yang baru tiba di puncak

Pendakian Gunung Semeru 009

Bersiap-siap turun

Perjalanan Turun

Rencana kami untuk turun kembali ke Ranu Kumbolo dan menginap di sana semalam harus dibatalkan. Hujan dan kabut tebal kembali turun menghiasi Gunung Semeru. Kami terpaksa menginap semalam lagi di Kali Mati. Tak ada pekerjaan lain selain makan dan tidur yang kami lakukan untuk menunggu cuaca membaik.

Untungnya cuaca keesokan harinya cukup mendukung untuk perjalanan turun. Walaupun harus diguyur hujan sepanjang perjalanan dari Ranu Kumbolo hingga Pos 1, kami semua tiba dengan selamat di Ranu Pani. Beres melapor ke petugas TNBTS, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Surabaya seusai mengisi perut dengan Nasi Rawon hangat nan pedas.

About The Author "rotyyu"

Komentar Facebook:

23 thoughts on “Mendaki Semeru, Menggapai Puncak Tertinggi Pulau Jawa

  1. Salam.

    Biar pengunjung makin cinta blog ini, buat halaman khusus untuk bercerita tentang pemilik blog ini.
    Pasang widget “About.Me” dan “follow blog ini”

    Salam sehati

  2. Blog yang menarik. Yuk, teruskan berbagi ide-ide kreatif lewat blog-blog menarik. Kunjungi juga http://malumaluin.wordpress.com/ Salam malu-maluin!

  3. wih…ni blog tentang pengalaman berpetualang..keren
    udah pernah ke gunung ijen pak ?
    saya hampir pingsan ke ijen…

    medan mahameru gimana pak,, susah apa nggak ? saya bulan depan ada rencana ke mahameu soalnya.heheh

Leave a Reply to Fahmi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi