Ngegembel di Gunung Lawu

Ngegembel di Gunung Lawu adalah pengalaman yang cukup menarik ketika saya dan teman-teman tim pendakian gunung penuh misteri dan mistis itu telah turun dan hendak melanjutkan perjalanan pulang ke Madiun sebagai tempat transit ke Surabaya (sebagian ke Bojonegoro). Awal cerita sebenarnya sudah diplot pada saat kedatangan kami di Cemoro Sewu sebagai pintu masuk ke Lawu. Ongkos angkot dari Terminal Plaosan di Magetan menuju Cemoro Sewu yang di luar dugaan itu lah yang menjadi sebab musababnya. Saat akan membayar ongkos, salah seorang teman saya bertanya ke supir angkotnya “Berapa Mas?”, “Seratus ribu Mas..” balas si supir tanpa rasa bersalah. Seperti disambar geledek di siang bolong, jawaban itu sontak membuat kami berempat terkejut dan saling bepandangan. Kami tak percaya akan semahal itu.

Upaya negosiasi pun segera dilakukan. Tidak boleh tidak, kami harus melakukan tawar-menawar dengan si supir karena jika tidak kami bisa kekurangan dana. Teman saya yang bertanya tadi memulai penawaran “Enam puluh ya Mas?”, “Ga dapat Mas, satu orangnya dua puluh lima ribu..” begitu reaksi si supir. Bahkan sampai tawaran di angka Rp. 20.000 pun, dia masih belum bersedia menerimanya. Upaya tawar-menawar ini sepertinya gagal, si supir tetap pada pendiriannya semula. Dengan sedikit agak kesal, akhirnya kami merogoh saku dalam-dalam dan mengumpulkan Rp. 100.000.

Singkat cerita setelah 2 malam dan 1 hari diguyur hujan dan badai di puncak Gunung Lawu, kami pun turun pada hari ke-3. Perjalanan turun lewat jalur Cemoro Kandang membutuhkan waktu lebih kurang 5 jam. Nah celakanya lagi, di Cemoro Kandang kami masih sempat-sempatnya menikmati wisata kuliner khas Gunung Lawu, Sate Landak dan Sate Kelinci. Walaupun sudah berusaha berhemat dengan hanya memesan satu porsi Sate Landak, satu porsi Sate Kelinci, dan empat porsi Nasi Putih, kami tetap dipastikan akan kekurangan dana untuk membayar ongkos Gunung Lawu-Terminal Maospati. Solusi satu-satunya adalah menjadi gembel alias ngebembel.

ngegembel di gunung lawu

Pulangnya naik mobil bak terbuka (pickup/datsun)

Beruntung sekali, sore itu kami mendapatkan tumpangan yang cukup murah dan nyaman. Rencana awalnya kami hendak menumpang truk-truk pengangkut sayuran dan produk pertanian lainnya yang berlalu lalang di jalur Jawa TengahJawa Timur itu. Bahkan penjual Pentol di Cemoro Sewu pun bersedia membantu kami mencegat truk-truk itu (hiks.. terharu). Namun pada akhirnya yang kami tumpangi adalah sebuah mobil kecil bak terbuka alias pickup alias datsun alias apalagi ya? Supirnya akan menerima berapapun yang kami bayarkan. Sebagai orang-orang yang tahu balas budi, kami memutuskan untuk memberikan Rp. 40.000 sebagai ganti uang bensin. Harga itu terhitung sangat murah karena kami diantarkan sampai Terminal Maospati sehingga tidak perlu transit di Terminal Plaosan.

Satu pelajaran yang akan selalu kami ingat dari pengalaman ini: jangan pernah naik bus/angkutan umum sebelum bertanya dulu berapa ongkosnya ;).

About The Author "rotyyu"

Komentar Facebook:

5 thoughts on “Ngegembel di Gunung Lawu

    • Ruslan: Betul sekali, apalagi supirnya ini nyetirnya udah kayak pembalap, meliuk-liuk di jalanan yang berkelok-kelok dan lumayan curam.

Leave a Reply to rotyyu Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi