Pengalaman Horor di Jembatan Barito

Ternyata rencana yang baik sekalipun tidak selalu berjalan dengan baik. Walaupun semuanya sudah direncanakan dengan terperinci kadang ada saja faktor x yang bisa membuat rencana itu tidak berjalan semestinya. Itu yang saya alami ketika backpacking ke Banjarmasin beberapa waktu yang lalu. Sesuai dengan rencana, sehari sebelum pulang saya hendak mengunjungi Pasar Terapung Kuin, Pulau Kembang, Masjid Sultan Suriansyah, eksplorasi kota Banjarmasin, dan sore harinya ke Jembatan Barito. Semuanya berjalan dengan lancar kecuali rencana ke Jembatan Barito yang hampir saja batal.

Hujan Mengguyur Banjarmasin

Siang itu ketika saya sedang berkeliling kota, tiba-tiba saja hujan yang cukup deras tumpah dari langit. Saya yang sedang berada dalam angkot langsung celingak-celinguk lewat kaca jendela untuk mencari tempat sekedar nongkrong sambil menunggu hujan reda. Saya pikir tidak akan ada gunanya juga melanjutkan eksplorasi dengan cuaca seperti itu. Saya meminta Pak Supir untuk menurunkan saya di depan salah satu mall di Banjarmasin. Pilihan yang buruk untuk sebuah perjalanan backpacking tapi cukup baik untuk keadaan cuaca saat itu.

Di dalam mall saya berjalan-jalan dari satu lantai ke lantai lainnya. Berusaha membunuh waktu. Sementara di luar hujan semakin deras saja mengguyur Kota Seribu Sungai. Entah kebetulan entah bukan ternyata hari itu adalah penayangan perdana The Raid yang menjadi film laga paling heboh tahun kemarin. Karena semakin bosan menunggu hujan yang tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan segera berhenti, akhirnya saya membeli tiket untuk menyaksikan Iko Uwais beraksi. Hujan masih turun dengan semangatnya.

Tak terasa hampir 2 jam duduk dengan nyaman menyaksikan pertunjukan The Raid yang begitu menegangkan. Film itu benar-benar film laga yang hebat. Saya dengan semangat keluar dari bioskop berharap hujan sudah reda. Senyuman tipis mendarat di bibir ini menyaksikan sisa-sisa hujan di Banjarmasin. Langsung saya cegat angkot menuju terminal transit ke Jembatan Barito. Saya begitu bersemangat.

Ketakutan Dalam Kegelapan Barito

Sesampainya di terminal, saya kembali merasa beruntung karena masih ada angkutan yang menuju ke Jembatan Barito. Kabar buruknya, kemungkinan besar tidak akan ada lagi angkutan dari arah sebaliknya. Ini benar-benar kabar buruk! Saya dihadapkan pada dua pilihan, melihat Jembatan Barito yang gagah itu dengan resiko tidak ada angkutan pulang ke Banjarmasin atau kembali dengan nyaman ke Banjarmasin tapi tidak melihat Jembatan Barito. Ah saya ambil resiko saja. Saya akan tetap ke Jembatan Barito, resikonya tanggung sendiri nanti.

Di perjalanan hujan kembali turun. Hujan lagi? Saya bertanya dalam hati yang mendadak galau. Untuk membuang rasa galau dalam hati saya membuka percakapan dengan penumpang dalam angkutan itu. Seperti biasa, penduduk negeri ini begitu ramah. Percapakan itu berlangsung dengan hangat. Saya menceritakan tentang pernjalanan saya di Banjarmasin. Salah satu dari mereka mengatakan kadang ada ojek yang mangkal di dekat jembatan itu. Kabar baik, begitu pikir saya. Setidaknya ada harapan.

Setibanya di Jembatan Barito suasanya cukup sepi. Mungkin karena hujan atau mungkin juga karena saat itu memang sudah terlalu sore. Saya hanya melihat dua pedagang makanan yang masih bertahan dengan payungnya, segelintir pengunjung dengan sepeda motor, dan sekelompok mahasiswa dengan peralatan panjat tebing. Saya coba menjalani jembatan itu dari satu sisi ke sisi lainnya di tengah hujan yang masih setia menemani. Hujan ini bahkan membuat saya enggan untuk mengeluarkan kamera dari dalam tas. Ternyata jembatan yang menghubungkan tepi barat dengan tepi timur Sungai Barito itu lumayan panjang juga. Total panjangnya adalah 1.082 m.

Hari semakin malam, pengunjung Jembatan Barito semakin berkurang. Saya mencoba bertanya ke pedagang yang mulai berkemas hendak pulang. Kabar buruk! Menurut penuturan para pedagang itu tidak ada angkutan umum lagi apalagi ojek kalau sudah malam. Senja berubah jadi malam. Terang berganti gelap. Dan sialnya, ternyata jembatan ini tidak dilengkapi lampu penerangan sama sekali. Kebayang betapa gelapnya di pelosok Kalimantan. Dan saya terperangkap di sana.

Saya berusaha menenangkan diri. Saya mencoba mencegat kendaraan apa saja yang lewat ke arah Banjarmasin. Hasilnya nihil. Saya semakin kalap ketika menyadari saya sendirian di atas jembatan itu, dalam kegelapan. Ketakutan saya bertambah karena semakin malam kendaraan yang lewat semakin jarang. Saya benar-benar bingung dan ketakutan. Namun saya belum putus harapan. Saya masih akan menunggu dan mencegat setiap kendaraan yang lewat, tak peduli apakah mereka bersedia memberikan tumpangan atau tidak.

Dalam keadaan seperti ini saya berpikir jika saja ada kendaraan yang mau memberi tumpangan, saya bahkan akan membayar berapapun yang mereka minta. Saya hanya ingin kembali dengan selamat ke Banjarmasin. Saya tidak mau pulang hanya tinggal nama saja. Saya juga tidak terbayang kalau harus jalan kaki ke Banjarmasin dalam kegelapan seperti itu. Sepertinya saya sudah menunggu hampir sejam tapi belum ada juga kendaraan yang bersedia memberikan tumpangan. Terbersit sedikit penyesalan kenapa saya harus mengambil resiko ini. Dan akhirnya kepikiran juga untuk mencoba jalan kaki saja ke Banjarmasin. Walaupun dengan jarak yang begitu jauh, hujan yang masih turun, dan perut yang mulai keroncongan dijamin saya tidak akan sampai ke Banjarmasin.

Di saat seperti ini, cahaya di kejauhan adalah harapan. Ya, ada mobil yang menuju ke Banjarmasin. Saya bersiap mencegatnya sambil berdoa dalam hati. Kali ini nasib baik ada di pihakku. Lega rasanya masuk ke dalam mobil itu. Ternyata mereka serombongan pekerja tambang yang baru saja mendapatkan jatah cuti. Dan setelah hampir sejam perjalanan tiba juga saya di Banjarmasin. Sungguh ini akan jadi pengalaman yang tidak akan saya lupakan seumur hidup.

About The Author "rotyyu"

Komentar Facebook:

16 thoughts on “Pengalaman Horor di Jembatan Barito

  1. Wah untung dapet angkot ya… kalau saya sih selalu pegang senter jadi kalau malam gak ada angkot ya sudah jalan kaki saja apalagi di daerah2 yang kejahatannya masih minim biasanya nyaman saja berjalan kaki

  2. Diseberang jembatan yg arah palangkaraya ada warung kopi 24 jam..biasanya ada aja yg mau antar pake motor dgn tarif nego…

    • Doni Toar: Ada ya? Dulu saya ga sempat ke seberang yg ke arah Palangkaraya sih. Mikirnya kalau nunggu yg ke Banjarmasin ya di sisi seberangnya 🙂

  3. Wah, untungnya ada yang memberi tumpangan mas. Andisaja tidak, bisa jadi akan bermalam semalaman suntup di situ. Moga2 yang kasih tumpangan dimudahkan segala urusannya oleh Allah SWT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi