Berburu Oleh-oleh Khas Balikpapan di Pasar Inpres Kebun Sayur

Pasar tradisional adalah salah satu tempat yang wajib saya kunjungi ketika jalan-jalan ke suatu daerah. Mengapa wajib? Di pasar tradisional saya bisa menyaksikan langsung dinamika kehidupan masyarakat daerah tersebut. Di pasar tradisional saya juga bisa berinteraksi langsung dengan warga setempat. Di pasar tradisional saya bisa mencicipi berbagai masakan khas satu daerah dengan harga miring. Di pasar tradisional saya bisa menemukan berbagai hal menarik. Bagi saya pribadi, pasar tradisional merupakan cerminan kehidupan masyarakat satu daerah.

Menengok Wisata Penangkaran Buaya di Teritip, Balikpapan

Bertemu buaya di habitat aslinya mungkin akan membuat sebagian besar orang ketakutan. Namun hal seperti itu tidak perlu terjadi jika kita berkunjung ke lokasi Penangkaran Buaya Teritip. Yup, tempat ini cocok sekali untuk mereka yang ingin melihat buaya dari dekat tanpa harus merasa waswas. Tempat ini juga bisa menjadi wisata alternatif jika sedang backpacking ke Kota Balikpapan dan sudah puas mengunjungi semua pantainya. Lokasi penangkaran terletak sekitar 28 km dari pusat kota, tidak jauh dari Pantai Manggar. Pengunjung bisa menggunakan angkutan umum nomor 7 untuk mencapai lokasi ini. Namun sebaiknya pastikan dulu kalau angkutan yang ditumpangi akan sampai ke lokasi penangkaran.

Wisata Pantai Di Kota Minyak, Balikpapan

Saya selalu salah mengira kalau Balikpapan adalah ibu kota dari Kalimantan Timur. Padahal kota dengan biaya termahal se-Indonesia ini hanya diposisikan sebagai pusat industri dan pintu gerbang Kalimantan Timur. Sedangkan pusat pemerintahan alias ibu kota berada di Samarinda. Balikpapan mendapat julukan Kota Minyak (Banua Patra) lantaran di sana terdapat salah satu kilang minyak terbesar di negeri ini. BBM yang dihabiskan di Pulau Jawa itu asalnya dari sini. Anehnya saat saya backpacking ke sana, masih saja ada antrian kendaraan bermotor di SPBU. Negeri ini memang terkadang lucu tak lucu.

Pengalaman Horor di Jembatan Barito

Ternyata rencana yang baik sekalipun tidak selalu berjalan dengan baik. Walaupun semuanya sudah direncanakan dengan terperinci kadang ada saja faktor x yang bisa membuat rencana itu tidak berjalan semestinya. Itu yang saya alami ketika backpacking ke Banjarmasin beberapa waktu yang lalu. Sesuai dengan rencana, sehari sebelum pulang saya hendak mengunjungi Pasar Terapung Kuin, Pulau Kembang, Masjid Sultan Suriansyah, eksplorasi kota Banjarmasin, dan sore harinya ke Jembatan Barito. Semuanya berjalan dengan lancar kecuali rencana ke Jembatan Barito yang hampir saja batal.

Masjid Sultan Suriansyah, Masjid Tertua di Kalimantan Selatan

Masjid Sultan Suriansyah bisa menjadi nilai tambah tersendiri ketika mengunjungi Pasar Terapung Kuin di Sungai Barito. Masjid yang terletak di tepian Sungai Kuin ini memang searah dengan Pasar Terapung Kuin jika kita berangkat dari Kota Banjarmasin. Jadi tidak akan rugi kalau sekali mendayung tiga pulau terlampaui kan? Masjid ini menurut catatan sejarah dibangun di era Kerajaan Banjar di masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550). Beliau adalah Raja Banjar pertama yang menganut agama Islam. Diperkirakan usia masjid ini sudah mencapai angka 450 tahun dan termasuk salah satu masjid tertua di Indonesia.

Desa Pumpung, Obyek Wisata Penambangan Intan Tradisional

Di Pasar Intan Bumi Cahaya Selamat kita dapat menemukan segala jenis batu intan permata dan membelinya sebagai oleh-oleh. Namun jika ingin menyaksikan langsung bagaimana penambangan intan dilakukan, kita harus melakukan sedikit petualangan lagi. Puas menjelejahi pasar dan mendapatkan beberapa suvenir sebagai buah tangan, saya mencari informasi tentang lokasi penambangan intan di Martapura. Ternyata saya harus kembali ke arah Kota Banjar Baru untuk nantinya melanjutkan dengan angkutan lain menuju Desa Pumpung. Untuk lebih mudahnya, saya langsung berpesan saja ke supirnya kalau saya ingin diturunkan di desa penambangan intan tradisional itu.

Arsitektur Bangunan Sebagai Identitas Suatu Daerah

Sesungguhnya setiap daerah di Indonesia memiliki keunikannya masing-masing, termasuk juga dalam urusan arsitektur bangunan. Hampir semua suku bangsa di Indonesia mempunyai rumah tradisional yang khas dan unik. Biasanya rumah tradisional di satu daerah disesuaikan dengan kondisi alam setempat. Di beberapa daerah, rumah tradisional dibuat dengan tiang-tiang penyangga yang tinggi dan kokoh untuk menghindari banjir dan serangan hewan buas. Keunikan lain terletak pada ornamen berupa ukiran-ukiran yang disematkan pada bagian rumah tradisional. Pada umumnya ukiran-ukiran ini adalah karya seni bernilai tinggi. Sayangnya kemajuan zaman semakin mendesak penggunaan rumah tradisional sehingga kita terancam tidak akan lagi melihat karya-karya seni ini.

Martapura, Kotanya Para Pendulang Intan

Di hari terakhir jalan-jalan di Kota Banjarmasin, saya menyempatkan diri untuk mampir ke Martapura. Kota ini terkenal karena kerajinan intan berkualitas dan tambang intan tradisional yang tersebar di beberapa wilayahnya. Satu kesalahan besar kalau saya sudah jauh-jauh datang ke Banjarmasin tanpa mengunjungi Kota Intan ini. Dari hotel tempat saya menginap di Banjarmasin terlebih dulu harus ke terminal pal 6 dilanjutkan dengan angkutan lain jurusan bandara dan Martapura. Perjalanan dari Banjarmasin hingga Martapura ditempuh sekitar sejam, namun bisa juga lebih. Saya sendiri sempat tertidur di dalam angkutan.

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi