Sumenep, Pesona Madura Di Ujung Timur Pulau

Bagi orang luar, Madura itu tak lebih dari sebuah pulau yang terkenal dengan budaya Karapan Sapi atau produksi garamnya yang melimpah.  Tak sedikit pula yang mengenal Pulau Garam ini dari berbagai stereotip buruk yang berkeliaran dari mulut ke mulut. Banyak yang lupa kalau sesungguhnya Madura punya peranan yang sangat penting dalam proses berdirinya Majapahit, kerajaan terbesar yang pernah ada di Nusantara itu. Mungkin banyak pula yang lupa kalau masyarakat Madura merupakan salah satu yang paling religius di negeri ini.

Tak Ada Keraton Yogyakarta, Pinggirannya Pun Jadi

“Keratonnya sudah tutup dek!” seru salah satu tukang becak yang sore itu mangkal di depan pintu masuk Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. “Kalau mau, ayo saya antarkan keliling tempat-tempat yang ada di seputaran keraton,” lanjut bapak itu. Tempat-tempat yang dia maksud adalah Museum Kereta Yogyakarta, Alun-alun Kidul, Taman Sari, dan beberapa tempat yang ada di sekitar keraton yang masih memungkinkan untuk dikunjungi meskipun keraton sudah tutup. Namun saya tak menghiraukan tawaran si bapak. Sudah menjadi rahasia umum, tukang becak di sini ujung-ujungnya akan membawa pengunjung ke toko oleh-oleh yang kemungkinan besar sudah bekerja sama dengannya. Lagi pula saya selalu menikmati berkeliling dengan jalan kaki.

Bukti Keistimewaan Yogyakarta di Museum Benteng Vredeburg

Saya harus berjalan kaki dari Pasar Beringharjo lantaran parkir di dekat Benteng Vredeburg pagi itu sudah cukup penuh. Jaraknya memang tak terlalu jauh, apalagi hari itu saya tak sendirian. Saya bersama lima orang teman berniat mengelilingi Kota Yogyakarta seharian penuh sebelum kembali ke Surabaya. Tujuan pertama kami pagi itu adalah Museum Benteng Vredeburg. Menurut salah seorang teman yang sudah tinggal cukup lama di Jogja, saya harus mengunjungi benteng ini kalau mau tahu lebih banyak tentang keistmewaan Yogyakarta dalam sejarah perjuangan Indonesia.

Wisata Kuliner Jogja: Ayam Geprek Super Pedas

Yang namanya pelancong/backpacker/traveler itu ya, seharian pasti jalan melulu. Mereka tak akan hentinya mengeksplorasi satu daerah yang sedang dikunjungi. Semua tempat bakal dikunjungi, mulai dari yang sudah populer sampai yang belum pernah dilihat orang lain. Ada yang merencanakannya dengan apik namun ada pula yang lebih memilih jalan tanpa rencana. Mereka yang terakhir ini menikmati sensasi tersesat di suatu wilayah sebagai suatu pengalaman tak terlupakan. Pilihan mana pun yang sobat pejalan pilih, jangan sampai lupa deh ngisi perut pada waktunya. Bukan hanya mata, hati, dan otak kita yang perlu diisi pada saat melancong, perut juga berhak mendapatkan asupannya.

Wisata Kuliner Jogja: Wedang Uwuh Alias Minuman Sampah

Tak perlu terkejut membaca judul artikel ini :). Saya sama sekali tidak sedang berbohong atau berkelakar. Minuman ini saya temukan dalam perjalanan wisata di Jogjakarta beberapa waktu yang lalu. Dalam bahasa Jawa namanya Wedang Uwuh, wedang artinya minuman dan uwuh kurang lebih artinya sampah. Wedang Uwuh ya minuman sampah. Saat kali pertama memesannya, setiap orang mungkin akan langsung mengira ini bukan minuman sungguhan. Penampakannya memang lebih terlihat seperti sampah yang dikumpulkan dalam gelas lalu disiram dengan air panas.

Candi Mendut Bukan Saksi Bisu Kisah Roro Mendut

Pernah mendengar atau membaca kisah kasih tak sampai Roro Mendut dengan Pronocitro? Tragedi cinta itu sudah bagaikan legenda yang hidup di Pulau Jawa. Sebagian orang mungkin akan membandingkannya dengan kisah Romeo dan Juliet mahakarya William Shakespeare. Lalu apa hubungannya dengan Candi Mendut? Tentu saja tidak ada. Mungkin suatu kebetulan keduanya menggunakan nama Mendut, satunya adalah wanita cantik yang terkenal kemolekannya sedangkan satunya lagi adalah sebuah bangunan candi yang anggun. Kebetulan pula letaknya saling berdekatan, kita masih dapat menyaksikan makam Roro Mendut di Sleman yang hanya berjarak 2 jam perjalanan dari Candi Mendut yang ada di Magelang.

Candi Borobudur Itu Di Magelang Bukan Di Jogja

Candi Borobudur itu salah satu mahakarya nenek moyang bangsa Indonesia yang sudah diakui dunia. Tidak saja banyak dikunjungi wisawatan dari berbagai negara tapi juga pernah didaulat menjadi satu dari tujuh keajaiban di dunia. PBB melalui UNESCO pun sudah memasukkan candi peninggalan Wangsa Syailendra ini ke dalam daftar warisan dunia yang harus dilindungi keberadaannya. Tak sedikit pula selebritis dunia yang sudah berkunjung ke candi yang biasa digunakan untuk perayaan Waisak oleh umat Buddha ini. Sebut saja Maria Sharapova dan Richard Gere sebagai contohnya.

Candi-candi Berserakan di Jalur Jolotundo G. Penanggungan

Pendakian itu tak melulu soal menggapai puncak. Pendakian itu tak melulu masalah ketinggian. Pendakian itu seringnya adalah soal mencari makna. Bahkan kadang-kadang pendakian bisa berubah menjadi ekspedisi arkeologi bersejarah. Hal seperti itulah yang akan terjadi tatkala kita mendaki Gunung Penanggungan. Di masa lalu gunung yang lebih dikenal dengan nama Pawitra ini ternyata merupakan pusat kegiatan keagamaan. Bukti-buktinya dapat dilihat hingga saat ini. Puluhan candi, pertirtaan, dan makam tersebar di tubuh gunung yang konon sering dikunjungi Hayam Wuruk ini.

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi