Archive for the ‘Sejarah’ Category


Situs Trowulan, Bukti Kejayaan Kerajaan Majapahit

Orang Indonesia mana yang tak tahu Kerajaan Majapahit? Mungkin setiap orang di negeri ini tahu kalau Majapahit merupakan salah satu kerajaan terbesar yang pernah ada di Nusantara. Sejarah mencatat bahwa wilayah kekuasaan kerajaan yang berjaya di masa pemerintahan Hayam Wuruk ini membentang dari ujung barat hingga ujung timur kepulauan Nusantara. Bahkan beberapa sumber menyebutkan kalau sejumlah negara tetangga di Asia Tenggara juga termasuk ke dalam daerah bawahannya. Kerajaan Majapahit juga dikenal lantaran kehebatan Gadjah Mada, sang mahapatih, yang mengucapkan Sumpah Palapa untuk menyatukan Nusantara di bawah panji-panji kekuasaan Majapahit. Boleh dikatakan Majapahit adalah embrio Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun tak banyak orang yang tahu kalau sisa-sisa kejayaan Majapahit masih dapat disaksikan di Situs Trowulan, Kabupaten Mojokerto.


Menelusuri Jejak Gadjah Mada di Air Terjun Madakaripura

Majapahit di masa jayanya mempunyai seorang mahapatih yang bersumpah akan mempersatukan Nusantara di bawah panji-panji kerajaan terbesar yang pernah ada di Indonesia itu. Ia adalah Mahapatih Gadjah Mada, seorang gagah perkasa yang berhasil menaklukkan Nusantara dan menyatukannya dalam kekuasaan Majapahit. Konon di akhir hidupnya, sang mahapatih menghabiskan waktunya dengan bertapa hingga muksa di suatu gua di air terjun di kaki Gunung Tengger.


Berwisata Ke Mercusuar Peninggalan Belanda Di Bangkalan

Indonesia itu sesungguhnya kaya akan peninggalan bangunan bersejarah. Salah satunya adalah sebuah mercusuar peninggalan Belanda di Bangkalan, Pulau Madura. Mercusuar ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Z.M. Willem III. Menurut plat yang masih tertempel di menara suar ini, pembangunan selesai dilakukan pada tahun 1879. Artinya bangunan ini sudah berdiri selama 134 tahun. Hebatnya mercusuar ini masih berfungsi dengan baik hingga kini. Ketika malam tiba, lampu-lampu di puncak menaranya dengan setia menerangi puluhan hingga ratusan kapal yang mengarungi Selat Madura.


Mengenang Perjuangan Merebut Irian Barat di Monumen Mandala

Perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan, begitulah adanya. Itu lah yang membuat cerita perjuangan layak dikenang. Layak diteruskan ke generasi berikutnya. Layak untuk mendapatkan sebuah monumen atau prasasti untuk mengingatkan generasi penerus akan besarnya pengorbanan dalan perjuangan. Bangsa Indonesia dalam perjalanan merebut kemerdekaan dilakukan dengan perjuangan yang mengorbankan banyak jiwa dan raga. Salah satu yang akan selalu dikenang adalah perang di Laut Arafuru dalam upaya mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi. Monumen Mandala akan selalu mengingatkan kita pada perjuangan tersebut.


Wisata Sejarah ke Benteng Somba Opu di Makassar

Awalnya saya berpikir bahwa Benteng Somba Opu itu akan tampak gagah seperti Benteng Ujung Pandang (Fort Rotterdam) yang sudah saya kunjungi sebelumnya. Ternyata saya salah besar. Saya tidak menemukan bangunan dengan tembok super tebal di benteng ini. Saya juga tidak melihat bangunan dengan bentuk menyerupai benteng kebanyakan. Benteng Somba Opu itu juga ternyata sangat luas, jauh melebihi luas Fort Rotterdam. Mungkin karena faktor luas itu lah mengapa saya tidak melihat bangunan seperti benteng pada umumnya.


Wisata Sejarah di Fort Rotterdam, Makassar

Selain terkenal dengan wisata kuliner sea food, Kota Makassar juga punya wisata-wisata yang sarat nilai sejarah. Salah satunya adalah Fort Rotterdam atau biasa dikenal juga dengan nama Benteng Ujung Pandang. Benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo ini terletak di sebelah barat Makassar, tepatnya di Jl. Ujung Pandang. Lokasinya sangat dekat sekali dengan pantai, hanya dipisahkan oleh jalan beraspal. Menurut catatan sejarah, benteng ini pertama kali didirikan pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9.


Masjid Sultan Suriansyah, Masjid Tertua di Kalimantan Selatan

Masjid Sultan Suriansyah bisa menjadi nilai tambah tersendiri ketika mengunjungi Pasar Terapung Kuin di Sungai Barito. Masjid yang terletak di tepian Sungai Kuin ini memang searah dengan Pasar Terapung Kuin jika kita berangkat dari Kota Banjarmasin. Jadi tidak akan rugi kalau sekali mendayung tiga pulau terlampaui kan? Masjid ini menurut catatan sejarah dibangun di era Kerajaan Banjar di masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550). Beliau adalah Raja Banjar pertama yang menganut agama Islam. Diperkirakan usia masjid ini sudah mencapai angka 450 tahun dan termasuk salah satu masjid tertua di Indonesia.

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi