Archive for the ‘Pulau’ Category


Masjid Agung Sumenep, Masjid Tertua Di Madura

Tak jauh dari Keraton Sumenep terdapat satu bangunan unik yang menjadi salah satu daya tarik wisata di kota ini. Masjid Agung Sumenep namanya, terkadang dikenal pula sebagai Masjid Jamik Sumenep. Tembok bagian depannya tampil sangat megah berhiaskan gapura dengan warna cat yang sangat mencolok. Perpaduan warna kuning, hijau, dan putih membalut pagar pelindung itu dengan cantik. Warna yang digunakan masyarakan Madura memang cenderung lebih berani bila dibandingkan dengan warna di Jawa yang lebih kalem.


Tak Hanya Jogja, Sumenep Juga Punya Keraton

Kota dan Kabupaten Sumenep terletak di bagian paling timur dari Pulau Madura. Pas banget di ujung kalau dilihat di peta. Cara terbaik mengelilingi Madura adalah dengan mengunjungi Sumenep. Kok bisa? Pasalnya saat ini hanya ada satu sarana transportasi untuk menyambangi kota ini, yaitu lewat jalan darat. Perjalanan dimulai dari Kabupaten Bangkalan lalu membelah dua kabupaten lainnya, Sampang dan Pamekasan, sebelum akhirnya tiba di Sumenep.  Jadi pas sampai di Kota Sumenep, secara otomatis sudah berkeliling pulau.


Asta Tinggi: Kompleks Pemakaman Raja-raja Sumenep

Sebenarnya pagi itu saya sudah harus kembali ke Bangkalan. Namun karena tak mau rugi, saya ngotot minta diantarkan ke Asta Tinggi sebelum ke terminal bis. Untungnya Mas Dedy tak keberatan menemani saya dan rombongan ke makam para raja Sumenep itu. Setelah memastikan tak ada barang-barang yang tertinggal, mobil yang saya tumpangi segera melaju ke sebuah perbukitan di utara Kota Sumenep. Pagi itu suasana masih belum terlalu ramai. Udara juga masih terasa sejuk. Tanah masih sedikit basah akibat guyuran hujan semalam.


Aeng Tongtong, Desa Para Mpu Pembuat Keris Di Sumenep

Pagi itu saya bersama lima orang lainnya memacu kendaraan sewaan ke arah barat Kota Sumenep. Lepas dari keramaian kota, mobil berplat M yang kami tumpangi terus bergerak menyusuri jalan utama yang menghubungkan Sumenep dengan tiga kabupaten lainnya di Pulau Madura. Suasana yang kontras tampak selepas melewati gapura selamat datang. Jika sebelumnya yang ada di pinggir jalan adalah rumah penduduk, toko, perkantoran, sekolah, atau kampus, kini semua itu telah berganti dengan pohon cemara udang. Sejurus kemudian tampak pula tambak-tambak garam membentang di sisi kanan maupun kiri jalan. Tambak-tambak itu dibagi menjadi petakan yang dipisahkan pematang yang cukup besar dan tinggi. Di beberapa tempat di pematang itu terlihat pohon-pohon bakau tumbuh dengan kokoh. Saya tak melihat ada kesibukan di sana, mungkin karena sedang musim penghujan.


Sumenep, Pesona Madura Di Ujung Timur Pulau

Bagi orang luar, Madura itu tak lebih dari sebuah pulau yang terkenal dengan budaya Karapan Sapi atau produksi garamnya yang melimpah.  Tak sedikit pula yang mengenal Pulau Garam ini dari berbagai stereotip buruk yang berkeliaran dari mulut ke mulut. Banyak yang lupa kalau sesungguhnya Madura punya peranan yang sangat penting dalam proses berdirinya Majapahit, kerajaan terbesar yang pernah ada di Nusantara itu. Mungkin banyak pula yang lupa kalau masyarakat Madura merupakan salah satu yang paling religius di negeri ini.


Menjenguk Segara Anakan Di Pulau Sempu

Saya sengaja memilih menggunakan kata ‘menjenguk’ untuk judul tulisan ini karena Pulau Sempu memang sedang sakit. Ah yang benar dong, masa pulau bisa sakit? Ya, Pulau Sempu sakit karena ulah kita semua yang beramai-ramai menaklukkannya demi memproklamasikan pada dunia bahwa kita sudah pernah dari sana. Pada awalnya, Pulau Sempu itu mempunyai status Cagar Alam yang berarti tidak diizinkan memasukinya kecuali untuk keperluan penelitian. Entah sejak kapan dan entah siapa yang memulai, status itu kini sepertinya sudah berubah. Wisatawan dari berbagai daerah bahkan mancanegara dengan mudahnya mendapatkan izin masuk ke pulau ini. Celakanya lagi, Pemda Malang dan BKSDA Jatim selaku pengelola Pulau Sempu seolah membiarkan keramaian yang setiap akhir pekan atau hari libur seolah berlomba-lomba menyeberang demi mencapai Segara Anakan.


Foto-foto Karapan Sapi Madura 2013

Selain menyenangkan untuk ditonton, pertunjukan budaya Karapan Sapi Madura juga sangat cocok untuk hunting foto-foto bagus. Suasana balapan, arena karapan, kecepatan sapi, hingga ekspresi sang joki merupakan objek fotografi yang sangat menarik untuk dieksplorasi. Idealnya berburu foto di sport event seperti ini kamera harus dilengkapi lensa tele zoom yang cepat untuk menangkap momen dari jarak jauh. Namun kalau belum punya juga tidak jadi masalah :). Saya mendatangi Lapangan Skep di Bangkalan berbekal kamera Canon 1100D dengan lensa EFS 18-55 mm. Hasilnya saya suguhkan dalam artikel ini. WARNING: bandwidth killer! 😀


Karapan Sapi: Wisata Budaya Andalan Madura

Madura itu bukan hanya tentang sate, soto, atau garam apalagi carok. Madura itu sesunguhnya punya banyak potensi yang belum digarap dengan maksimal. Hasil perkebunan tembakau dari Sumenep konon yang terbaik kualitasnya di dunia. Cadangan minyak bumi lepas pantai di beberapa daerah Madura juga dikabarkan cukup berlimpah. Pelajar-pelajar dari Pulau Garam ini juga bergantian menghiasi media massa dengan prestasi mereka menjuarai lomba tingkat nasional. Dan bukan hanya itu, Madura juga punya potensi pariwisata yang cukup menjanjikan andai dikelola dengan baik. Puluhan pantai indah membentang dari sisi barat hingga timur pulau. Kerajinan Batik Tulis Madura dengan corak dan warnanya yang berani mulai dikenal dunia. Wisata kuliner pun tak kalah hebatnya. Lalu masih ada Karapan Sapi, wisata budaya yang bisa menjadi andalan menarik minat para pelancong.

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi