Archive for the ‘Laut’ Category


Menjenguk Segara Anakan Di Pulau Sempu

Saya sengaja memilih menggunakan kata ‘menjenguk’ untuk judul tulisan ini karena Pulau Sempu memang sedang sakit. Ah yang benar dong, masa pulau bisa sakit? Ya, Pulau Sempu sakit karena ulah kita semua yang beramai-ramai menaklukkannya demi memproklamasikan pada dunia bahwa kita sudah pernah dari sana. Pada awalnya, Pulau Sempu itu mempunyai status Cagar Alam yang berarti tidak diizinkan memasukinya kecuali untuk keperluan penelitian. Entah sejak kapan dan entah siapa yang memulai, status itu kini sepertinya sudah berubah. Wisatawan dari berbagai daerah bahkan mancanegara dengan mudahnya mendapatkan izin masuk ke pulau ini. Celakanya lagi, Pemda Malang dan BKSDA Jatim selaku pengelola Pulau Sempu seolah membiarkan keramaian yang setiap akhir pekan atau hari libur seolah berlomba-lomba menyeberang demi mencapai Segara Anakan.


KRI Dewaruci, Penguasa Lautan Dari Indonesia

KRI Dewa Ruci adalah satu-satunya kapal layar tiang tinggi yang dimiliki oleh TNI Angkatan Laut. Ia juga merupakan kapal layar paling besar yang dimiliki Indonesia. Nama Dewa Ruci sendiri diambil dari nama dewa penguasa lautan dalam kisah pewayangan Jawa. Kapal buatan Jerman tahun 1952 ini difungsikan sebagai kapal latih untuk para kadet/taruna TNI AL. Saat tak bertugas, kapal ini bermarkas di Mako Armada Timur Surabaya. Namun sepanjang hayatnya, KRI Dewa Ruci lebih banyak mengarungi lautan bersama para kadet.


Mengintip Markas Komando Armada Timur

Pada umumnya daerah-daerah khusus militer di Indonesia bersifat sangat tertutup. Tidak mudah untuk melihat isinya. Terkadang sudah seperti daerah angker yang dikeramatkan saja. Jangankan untuk mengintip isi markas sekelas Markas Komando Armada Timur (Mako Armatim), lewat dari depan Markas Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) saja kita harus seperti menunduk-nunduk. Saya masih ingat betul sewaktu SMA setiap kali bus yang saya tumpangi lewat di depan Markas Rindam lajunya harus sangat pelan. Ada suara bising sedikit saja bisa ditegur sama aparat.


Istimewanya Sunset Di Atas Feri Penyeberangan Selat Madura

Selama hampir tujuh tahun tinggal di Pulau Madura, saya sudah menyeberangi Selat Madura entah berapa ratus kali. Baik itu menggunakan kapal feri maupun melalui Jembatan Suramadu. Awalnya dulu pilihan penyeberangan Surabaya-Madura hanya menggunakan feri. Kala itu jalur ini sangat ramai, kadang para pengguna jasa feri harus mengantri sampai berjam-jam. Biasanya keadaan seperti ini akan semakin parah tatkala hari-hari besar tiba. Tapi itu dulu sebelum Jembatan Suramadu beroperasi. Kini penyeberangan lewat feri tidak seramai dulu lagi. Selain lebih murah, menyeberang lewat Jembatan Madura juga jauh lebih cepat.

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi