Archive for the ‘Gunung’ Category


Adu Ketahanan Fisik Di Lomba Lintas Alam Lindri Landrock 2014

“Kita ga dapat kursi, Bang!” seru Wahyu begitu aku tiba di Stasiun Kota Surabaya. Aku sempat tak percaya mendengar kabar itu. Sepengetahuanku, PT Kereta Api Indonesia sudah tak lagi menjual tiket untuk penumpang berdiri. Apa mungkin itu hanya berlaku untuk kereta jarak jauh? Bisa jadi. Selama ini aku belum pernah naik kereta untuk jarak yang cukup dekat. Tapi ya sudahlah, toh jarak Surabaya ke Tulungagung juga tak terlalu jauh. Menurut keterangan yang tertera di tiket, kereta yang kami tumpangi akan tiba pukul 15.00 WIB. Keberangkatan dari Surabaya sendiri dijadwalkan pukul 10.30 WIB.


Gunung Kelud Dalam Kenangan Sebelum Erupsi 2014

Di awal tahun 2014 ini kita semua dikejutkan dengan letusan Gunung Kelud. Walaupun tak sedahsyat letusan-letusan sebelumnya, debu vulkanik yang dikeluarkan Kelud kali ini menyebar hingga ke seluruh penjuru Pulau Jawa. Tak tanggung-tanggung semua bandara di Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Yogyakarta terpaksa ditutup karena landasan pacu ditutupi abu yang cukup tebal. Ribuan jiwa penduduk yang hidup di sekitar Gunung Kelud mulai dari Kediri, Malang, hingga Tulung Agung harus mengungsi. Meninggalkan kampung dan rumahnya. Menelantarkan ladang dan ternaknya.


Candi-candi Berserakan di Jalur Jolotundo G. Penanggungan

Pendakian itu tak melulu soal menggapai puncak. Pendakian itu tak melulu masalah ketinggian. Pendakian itu seringnya adalah soal mencari makna. Bahkan kadang-kadang pendakian bisa berubah menjadi ekspedisi arkeologi bersejarah. Hal seperti itulah yang akan terjadi tatkala kita mendaki Gunung Penanggungan. Di masa lalu gunung yang lebih dikenal dengan nama Pawitra ini ternyata merupakan pusat kegiatan keagamaan. Bukti-buktinya dapat dilihat hingga saat ini. Puluhan candi, pertirtaan, dan makam tersebar di tubuh gunung yang konon sering dikunjungi Hayam Wuruk ini.


Catatan Pendakian Gunung Penanggungan 1.653 MDPL

Jumat, 15/11/2013 Pukul 21.30 WIB

“Wow!” Begitulah ekspresi yang berhasil aku terjemahkan menjadi kata-kata demi melihat keindahan pemandangan di depan mata saat tiba di puncak Gunung Penanggungan. Nun jauh di bawah sana terhampar jutaan bola lampu yang mengeluarkan sinar berwarna kekuningan. Berkilauan. Kerlap-kerlip. Terlihat seperti sekelompok kunang-kunang yang sedang berpesta merayakan datangnya malam. Bermandikan cahaya. Aku segera meletakkan tas carrier berkapasitas 75L yang sedari tadi menggelantung di pundakku. Lalu aku membentangkan tangan, menutup mata, meresapi segala rasa yang dapat aku rasakan. Sementara itu angin berhembus dengan kencangnya, menularkan rasa dingin yang menusuk hingga tulang. Aku tak lagi merasakan lelah atau pun pegal, semuanya sudah menguap bersama angin dan keringat yang bercucuran di sekujur tubuh.


Ketinggalan Sunrise Di Gunung Bromo

Bromo sepertinya sudah menjadi salah satu primadona pariwisata di Jawa Timur. Keindahan pemandangan alam di kawasan gunung api yang masih aktif ini memang tak perlu diragukan lagi. Pemandangan matahari terbit (sunrise), Lautan Pasir, Bukit Teletubbies, Pasir Berbisik, hingga pemandangan Kawah Gunung Bromo menjadi menu utama di kawasan wisata ini. Selain itu masih ada upacara Yadnya Kasada yang juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Jadi tak salah bila Gunung Bromo sangat ramai dikunjungi para pelancong, apalagi saat hari libur atau akhir pekan tiba.


Mendaki Semeru, Menggapai Puncak Tertinggi Pulau Jawa

Hembusan angin dingin pegunungan musim hujan merasuk hingga tulang-tulang tatkala saya tiba di Ranu Pani.  Dinginnya  cuaca di sini mampu membuat siapapun yang tak terbiasa menggigil. Memulai perjalanan menjelang malam dari Surabaya, saya dan teman-teman satu tim tiba di kaki Gunung Semeru subuh keesokan harinya. Suasana begitu hening. Tenang. Hampir tak ada suara yang terdengar. Hanya kegelapan yang ada di depan mata. Cahaya Sang Rembulan di atas sana hanya mampu menghadirkan remang-remang terhalang awan gelap.


Peraturan Baru Pendakian Gunung Semeru

Popularitas Gunung Semeru memang semakin melejit seiring dengan suksesnya film 5 CM yang diangkat dari novel dengan judul yang sama. Keindahan pemandangan jalur pendakian Gunung Semeru yang disajikan dalam film garapan Rizal Mantovani tersebut mampu memancing rasa penasaran khalayak ramai. Pendakian ke Gunung Semeru pun meningkat dengan drastis. Bahkan pada akhir tahun 2012 lalu jumlah pendaki ke Gunung Semeru dapat dikatakan membludak. Celakanya lagi kebanyakan pendaki yang terprovokasi film 5 CM tidak memiliki cukup pengetahuan tentang pendakian. Mereka juga rata-rata kurang memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga keaslian, keasrian, dan kelestarian Gunung Semeru.


Indahnya Sunrise di Puncak Gunung Lawu

Saya mengagumi keindahan pemandangan matahari terbit (sunrise) di pagi hari sama seperti besarnya kekaguman saya pada keindahan pemandangan matahari terbenam (sunset) di sore hari. Mengagumi sunrise bukanlah pekerjaan mudah. Butuh sedikit pengorbanan jika ingin menyaksikan Sang Mentari bangun dari tidurnya. Setidaknya kita harus bangun lebih pagi dari biasanya, bahkan lebih awal dari Sang Mentari sendiri. Itu artinya kita harus memotong jatah tidur kita yang mungkin sudah berkurang dipakai begadang semalaman :D. Beberapa orang bahkan rela melawan rasa letih mencapai puncak gunung dan melawan dinginnya udara pagi demi menyaksikan indahnya sunrise.

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi