Archive for the ‘Budaya’ Category


Masjid Agung Sumenep, Masjid Tertua Di Madura

Tak jauh dari Keraton Sumenep terdapat satu bangunan unik yang menjadi salah satu daya tarik wisata di kota ini. Masjid Agung Sumenep namanya, terkadang dikenal pula sebagai Masjid Jamik Sumenep. Tembok bagian depannya tampil sangat megah berhiaskan gapura dengan warna cat yang sangat mencolok. Perpaduan warna kuning, hijau, dan putih membalut pagar pelindung itu dengan cantik. Warna yang digunakan masyarakan Madura memang cenderung lebih berani bila dibandingkan dengan warna di Jawa yang lebih kalem.


Uniknya Kasur Pasir Dari Desa Legung Sumenep

Hujan yang mengguyur Sumenep siang itu mulai reda. Namun langit masih saja kelabu. Awan-awan hitam tak bosan-bosannya menggantung di atas sana. Kami berlima beranjak dari rumah menuju mobil sewaan yang terparkir di pinggir jalan. Mesinnya menderu keras seiring kunci kontak diputar dan pedal gas diinjak sang supir. Roda-roda mobil itu lalu mulai menggilas sisa-sisa air hujan di aspal. Menimbulkan cipratan-cipratan kecil di sepanjang jalan. Tak lupa mereka meninggalkan jejak yang membelah hitamnya jalanan, sebelum akhirnya menghilang lalu muncul kembali saat mobil-mobil lainnya lewat.


Aeng Tongtong, Desa Para Mpu Pembuat Keris Di Sumenep

Pagi itu saya bersama lima orang lainnya memacu kendaraan sewaan ke arah barat Kota Sumenep. Lepas dari keramaian kota, mobil berplat M yang kami tumpangi terus bergerak menyusuri jalan utama yang menghubungkan Sumenep dengan tiga kabupaten lainnya di Pulau Madura. Suasana yang kontras tampak selepas melewati gapura selamat datang. Jika sebelumnya yang ada di pinggir jalan adalah rumah penduduk, toko, perkantoran, sekolah, atau kampus, kini semua itu telah berganti dengan pohon cemara udang. Sejurus kemudian tampak pula tambak-tambak garam membentang di sisi kanan maupun kiri jalan. Tambak-tambak itu dibagi menjadi petakan yang dipisahkan pematang yang cukup besar dan tinggi. Di beberapa tempat di pematang itu terlihat pohon-pohon bakau tumbuh dengan kokoh. Saya tak melihat ada kesibukan di sana, mungkin karena sedang musim penghujan.


Malam Tahun Baru 2014 Di Surabaya

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, malam tahun baru 2014 ini saya rayakan di dalam keramaian lautan manusia di Kota Pahlawan, Surabaya. Sejujurnya saja, saya bukan termasuk orang yang suka merayakan tahun baru dengan pesta atau hura-hura atau keramaian. Pergantian tahun 2012-2013 yang lalu saya kebetulan sedang mendaki Gunung Semeru, selebihnya saya selalu memilih berdiam diri di rumah kontrakan. Sebenarnya tahun ini pun saya berencana mendaki Gunung Penanggungan di malam pergantian tahun namun batal karena cuaca yang kurang mendukung.


Tak Ada Keraton Yogyakarta, Pinggirannya Pun Jadi

“Keratonnya sudah tutup dek!” seru salah satu tukang becak yang sore itu mangkal di depan pintu masuk Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. “Kalau mau, ayo saya antarkan keliling tempat-tempat yang ada di seputaran keraton,” lanjut bapak itu. Tempat-tempat yang dia maksud adalah Museum Kereta Yogyakarta, Alun-alun Kidul, Taman Sari, dan beberapa tempat yang ada di sekitar keraton yang masih memungkinkan untuk dikunjungi meskipun keraton sudah tutup. Namun saya tak menghiraukan tawaran si bapak. Sudah menjadi rahasia umum, tukang becak di sini ujung-ujungnya akan membawa pengunjung ke toko oleh-oleh yang kemungkinan besar sudah bekerja sama dengannya. Lagi pula saya selalu menikmati berkeliling dengan jalan kaki.


Wisata Kuliner Jogja: Wedang Uwuh Alias Minuman Sampah

Tak perlu terkejut membaca judul artikel ini :). Saya sama sekali tidak sedang berbohong atau berkelakar. Minuman ini saya temukan dalam perjalanan wisata di Jogjakarta beberapa waktu yang lalu. Dalam bahasa Jawa namanya Wedang Uwuh, wedang artinya minuman dan uwuh kurang lebih artinya sampah. Wedang Uwuh ya minuman sampah. Saat kali pertama memesannya, setiap orang mungkin akan langsung mengira ini bukan minuman sungguhan. Penampakannya memang lebih terlihat seperti sampah yang dikumpulkan dalam gelas lalu disiram dengan air panas.


Candi Mendut Bukan Saksi Bisu Kisah Roro Mendut

Pernah mendengar atau membaca kisah kasih tak sampai Roro Mendut dengan Pronocitro? Tragedi cinta itu sudah bagaikan legenda yang hidup di Pulau Jawa. Sebagian orang mungkin akan membandingkannya dengan kisah Romeo dan Juliet mahakarya William Shakespeare. Lalu apa hubungannya dengan Candi Mendut? Tentu saja tidak ada. Mungkin suatu kebetulan keduanya menggunakan nama Mendut, satunya adalah wanita cantik yang terkenal kemolekannya sedangkan satunya lagi adalah sebuah bangunan candi yang anggun. Kebetulan pula letaknya saling berdekatan, kita masih dapat menyaksikan makam Roro Mendut di Sleman yang hanya berjarak 2 jam perjalanan dari Candi Mendut yang ada di Magelang.


Candi Borobudur Itu Di Magelang Bukan Di Jogja

Candi Borobudur itu salah satu mahakarya nenek moyang bangsa Indonesia yang sudah diakui dunia. Tidak saja banyak dikunjungi wisawatan dari berbagai negara tapi juga pernah didaulat menjadi satu dari tujuh keajaiban di dunia. PBB melalui UNESCO pun sudah memasukkan candi peninggalan Wangsa Syailendra ini ke dalam daftar warisan dunia yang harus dilindungi keberadaannya. Tak sedikit pula selebritis dunia yang sudah berkunjung ke candi yang biasa digunakan untuk perayaan Waisak oleh umat Buddha ini. Sebut saja Maria Sharapova dan Richard Gere sebagai contohnya.

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi