Masjid Agung Sumenep, Masjid Tertua Di Madura

Tak jauh dari Keraton Sumenep terdapat satu bangunan unik yang menjadi salah satu daya tarik wisata di kota ini. Masjid Agung Sumenep namanya, terkadang dikenal pula sebagai Masjid Jamik Sumenep. Tembok bagian depannya tampil sangat megah berhiaskan gapura dengan warna cat yang sangat mencolok. Perpaduan warna kuning, hijau, dan putih membalut pagar pelindung itu dengan cantik. Warna yang digunakan masyarakan Madura memang cenderung lebih berani bila dibandingkan dengan warna di Jawa yang lebih kalem.

Tak Hanya Jogja, Sumenep Juga Punya Keraton

Kota dan Kabupaten Sumenep terletak di bagian paling timur dari Pulau Madura. Pas banget di ujung kalau dilihat di peta. Cara terbaik mengelilingi Madura adalah dengan mengunjungi Sumenep. Kok bisa? Pasalnya saat ini hanya ada satu sarana transportasi untuk menyambangi kota ini, yaitu lewat jalan darat. Perjalanan dimulai dari Kabupaten Bangkalan lalu membelah dua kabupaten lainnya, Sampang dan Pamekasan, sebelum akhirnya tiba di Sumenep.  Jadi pas sampai di Kota Sumenep, secara otomatis sudah berkeliling pulau.

Adu Ketahanan Fisik Di Lomba Lintas Alam Lindri Landrock 2014

“Kita ga dapat kursi, Bang!” seru Wahyu begitu aku tiba di Stasiun Kota Surabaya. Aku sempat tak percaya mendengar kabar itu. Sepengetahuanku, PT Kereta Api Indonesia sudah tak lagi menjual tiket untuk penumpang berdiri. Apa mungkin itu hanya berlaku untuk kereta jarak jauh? Bisa jadi. Selama ini aku belum pernah naik kereta untuk jarak yang cukup dekat. Tapi ya sudahlah, toh jarak Surabaya ke Tulungagung juga tak terlalu jauh. Menurut keterangan yang tertera di tiket, kereta yang kami tumpangi akan tiba pukul 15.00 WIB. Keberangkatan dari Surabaya sendiri dijadwalkan pukul 10.30 WIB.

Gunung Kelud Dalam Kenangan Sebelum Erupsi 2014

Di awal tahun 2014 ini kita semua dikejutkan dengan letusan Gunung Kelud. Walaupun tak sedahsyat letusan-letusan sebelumnya, debu vulkanik yang dikeluarkan Kelud kali ini menyebar hingga ke seluruh penjuru Pulau Jawa. Tak tanggung-tanggung semua bandara di Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Yogyakarta terpaksa ditutup karena landasan pacu ditutupi abu yang cukup tebal. Ribuan jiwa penduduk yang hidup di sekitar Gunung Kelud mulai dari Kediri, Malang, hingga Tulung Agung harus mengungsi. Meninggalkan kampung dan rumahnya. Menelantarkan ladang dan ternaknya.

Asta Tinggi: Kompleks Pemakaman Raja-raja Sumenep

Sebenarnya pagi itu saya sudah harus kembali ke Bangkalan. Namun karena tak mau rugi, saya ngotot minta diantarkan ke Asta Tinggi sebelum ke terminal bis. Untungnya Mas Dedy tak keberatan menemani saya dan rombongan ke makam para raja Sumenep itu. Setelah memastikan tak ada barang-barang yang tertinggal, mobil yang saya tumpangi segera melaju ke sebuah perbukitan di utara Kota Sumenep. Pagi itu suasana masih belum terlalu ramai. Udara juga masih terasa sejuk. Tanah masih sedikit basah akibat guyuran hujan semalam.

Uniknya Kasur Pasir Dari Desa Legung Sumenep

Hujan yang mengguyur Sumenep siang itu mulai reda. Namun langit masih saja kelabu. Awan-awan hitam tak bosan-bosannya menggantung di atas sana. Kami berlima beranjak dari rumah menuju mobil sewaan yang terparkir di pinggir jalan. Mesinnya menderu keras seiring kunci kontak diputar dan pedal gas diinjak sang supir. Roda-roda mobil itu lalu mulai menggilas sisa-sisa air hujan di aspal. Menimbulkan cipratan-cipratan kecil di sepanjang jalan. Tak lupa mereka meninggalkan jejak yang membelah hitamnya jalanan, sebelum akhirnya menghilang lalu muncul kembali saat mobil-mobil lainnya lewat.

Aeng Tongtong, Desa Para Mpu Pembuat Keris Di Sumenep

Pagi itu saya bersama lima orang lainnya memacu kendaraan sewaan ke arah barat Kota Sumenep. Lepas dari keramaian kota, mobil berplat M yang kami tumpangi terus bergerak menyusuri jalan utama yang menghubungkan Sumenep dengan tiga kabupaten lainnya di Pulau Madura. Suasana yang kontras tampak selepas melewati gapura selamat datang. Jika sebelumnya yang ada di pinggir jalan adalah rumah penduduk, toko, perkantoran, sekolah, atau kampus, kini semua itu telah berganti dengan pohon cemara udang. Sejurus kemudian tampak pula tambak-tambak garam membentang di sisi kanan maupun kiri jalan. Tambak-tambak itu dibagi menjadi petakan yang dipisahkan pematang yang cukup besar dan tinggi. Di beberapa tempat di pematang itu terlihat pohon-pohon bakau tumbuh dengan kokoh. Saya tak melihat ada kesibukan di sana, mungkin karena sedang musim penghujan.

Malam Tahun Baru 2014 Di Surabaya

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, malam tahun baru 2014 ini saya rayakan di dalam keramaian lautan manusia di Kota Pahlawan, Surabaya. Sejujurnya saja, saya bukan termasuk orang yang suka merayakan tahun baru dengan pesta atau hura-hura atau keramaian. Pergantian tahun 2012-2013 yang lalu saya kebetulan sedang mendaki Gunung Semeru, selebihnya saya selalu memilih berdiam diri di rumah kontrakan. Sebenarnya tahun ini pun saya berencana mendaki Gunung Penanggungan di malam pergantian tahun namun batal karena cuaca yang kurang mendukung.

| Copyright © 2012 - Loewyi Simple Themes All Rights Reserved | Created By loewyi